Wabah Ulat Bulu

Wabah ulat bulu yang awalnya dari Probolinggo telah menyebar ke daerah lain, termasuk Jakarta (Jakarta Barat dan Jakarta Timur) dan Bali (Buleleng).

Dikabarkan ribuan ulat bulu menyerang 10 desa di Probolinggo, Jawa Timur. Ulat-ulat ini turun dari pohon karena dedaunan telah habis mereka makan (sebagai catatan, ulat ini hanya mengincar daun pohon mangga karena menurut ahlinya kelembaban daun pohon mangga cocok untuk mereka) dan baru akhirnya akan memasuki rumah warga. Seorang warga menyatakan dia harus membersihkan rumahnya, paling tidak 2 jam setiap hari di pagi hari dan 2 jam lagi di sore hari.

Binatang kecil yang akan bermetaformosis menjadi kupu-kupu cantik ini membuat warga resah, karena bulunya yang beracun mampu membuat kulit tersiksa dengan rasa gatal. Warga membersihkannya dengan mengumpulkan dan membakarnya agar bulunya tidak bertebangan. Banyak pihak telah turun tangan, mulai dari Dinas Pertanian Jawa Timur, para Peneliti Akademis terkait, sampai pihak Kementrian Pertanian. Kesimpulannya menyatakan wabah ini “hanya” merupakan siklus dan masih dapat ditangani. Meski sampai saat tulisan ini dibuat, penyebarannya masih belum terhentikan.

Jika kita melihat Al-Qur’an, kita akan mendapati wabah binatang lain yang pernah ada dalam sejarah. Bani Israil pernah mengalami wabah belalang, kutu, dan katak sebagai salah satu bentuk hukuman Allah.

Maka kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (al-Araaf: 133)

Sebagai insan beriman, kita meyakini kita harus berikhtiar dengan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan setiap urusan dunia kita. Namun, dalam batas ketundukan kita sebagai hamba yang senantiasa harus mencari hikmah-Nya, kita sepatutnya merenung, mengintropeksi diri, dan merendah diri dihadapan-Nya atas setiap persoalan terlebih wabah semacam ini, agar dengan petunjuk-Nya, jalan keluarnya pun segera akan kita dapati.

READ  Filosofi Cacing Seorang Lazy Gardener

Sungguh dalam penciptaan langit langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),  “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 190-191)

Published  on Fokus Buletin Mimbar Jumat, DAI

Jakarta, 25 April 2011

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: