Nikmat Tuhan Mana Yang Kamu Dustakan

Di mendung yang indah ini, saya ingin menceritakan sebuah kisah yang saya alami di awal Desember 2011

Tema Unforgettable Moment ini memang saya niatkan untuk menceritakan kisah-kisah yang sangat berarti dalam hidup saya, yang mengandung hikmah bagi saya pribadi khususnya. Judul dari kisah pertama yang saya inginkan sebenarnya adalah Everything Happens with The Reason

Tapi judul yang pertama adalah My Dad My Hero, yang saya tulis September 2012 (https://www.facebook.com/angelika.rosma/posts/4470387847630)

Tulisan kedua tentang tema ini, ternyata Allah berikan yang ini, karena moment dan kesempatan.

Apa kita pernah memulai suatu hari dimana kita memulainya dengan awal yang mendung di hati kita? dan karenanya kita memulai hari tersebut dengan “bete” ☺

Itulah yang terjadi pada saya awal hari itu, sehingga saya mengawali tugas-tugas saya hari itu dengan banyak “cemberut” dihati. Intinya ada beberapa hal yang membuat saya tidak puas pada diri sendiri dan akhirnya bete sendiri.

Jadilah saya memulai hari itu, pergi ke tempat mengajar, menjalani rutinitas tetap dengan “bete”, naik bajaj, naik bus way, naik taksi dan tau-tau sudah tiba hampir sore hari dan saya ada di dukuh atas, sekitar jam 3 kurang. Saya terburu-buru untuk sampai ke kantor tempat saya mengajar yang lain lagi, dan terburu2 karena sore ada privat Bahasa Inggris.. Soal makan siang? Tidak sempat, saya biasa punya coklat atau permen di tas ☺

Tapi ternyata menjelang sore itu juga, mulai bergulir “teguran” Allah yang indah. Pernahkah kamu mengalaminya? Bahwa Allah menegurmu dengan caranya yang indah dan lembut? Membuatmu tersadar betapa Dia Maha Cinta, bahkan untuk hambaNya yang sedang bete sekalipun seperti saya hari itu.

Ketika turun dari bus way di Dukuh Atas 1, saya mendadak tersadar di depan saya, ada anak muda yang buta dan dia memakai tongkat putih, tongkat yang menjadi ciri khas jika seseorang buta.

Anak muda ini dari belakang berpenampilan rapi dan berjalan dengan konstan, teratur dan percaya diri. Seorang Petugas Trans Jakarta menggemgam tangannya, seolah menuntunnya.

Saat itu entah mengapa saya mendadak malu dengan gerutuan hati saya seharian itu dan meski saya sangat terburu-buru, saya diam saja berjalan di belakang anak muda ini, tidak ingin melewatinya.

Saat itulah hati saya mulai mengharu biru; betapa tenang jalannya, bahkan dengan tongkatnya, dia berjalan dengan tenang seperti seorang yang yakin akan tujuan dan jalannya. Bahkan yang lucu, petugas Trans Jakarta itu sempat lepas tali sepatunya. Dia melepas tuntunannya dan anak muda itu tetap melangkah dengan pasti.

READ  Pekerja Anak dan Mimpi Kejayaan Kita

Jika Anda pernah melintasi Shelter Dukuh Atas 1, pasti tahu, betapa panjangnnya shelter itu dan saya hanya diam saja berjalan di belakang anak muda tadi, yang terlihat menikmati berjalan tanpa terburu tetapi dengan yakin, seakan dia bisa melihat, meski dia buta.

Saat tiba diujung shelter, saya berhadapan dengan anak muda tadi, karena dia dipersilahkan tanpa mengantri dan mata saya benar-benar berkaca-kaca.

Karena anak muda ini ternyata ganteng, bersih dan yang buat saya berkaca-kaca adalah bibirnya yang tersenyum simpul, penuh keihklasan dan ketulusan. Senyum yang memang sudah ada di wajahnya, seakan dia tahu banyak orang yang menatapnya tapi senyumnya seolah mengatakan, Aku bahagia dan ridha dengan keadaanku.

Akhirnya saya terdiam saja di dalam bus way, memahami Allah menegur saya dengan cara-Nya yang indah.

Tapi ternyata teguran-Nya untuk saya belum lagi usai.

Ketika turun dari bus way di tempat yang entah sudah berpuluh kali saya turun, tiba-tiba saya tertegun, masih di trotoar shelter busway itu, saya melihat seorang penjual koran yang kakinya, (maaf) buntung, sebatas lutut sehingga dia harus lompat-lompat kecil untuk menjual korannya.

Saya shock lagi, kemana aja gue? perasaan tidak ada tukang koran seperti Abang ini, di perempatan ini.

Saya terus menatap dia..dalam diam dan haru kembali karena sadar, lagi-lagi Allah menegur saya. Karena saya terus menatapnya, tau-tau Abang ini sudah di depan saya.

Kompas Bu?” katanya
Republika ada?” jawab saya. Saya sudah punya Kompas di tas saya.
Nga ada Bu“, Abang ini tersenyum manis.
Akhirnya saya langsung mengangguk, “Ya, Kompas boleh Bang”.

Saya memasukkan Kompas kedua tersebut dalam tas saya dan tidak mengambil uang kembali koran tersebut. Abangnya tersenyum ringan, senyumnya ceria dan santai.

Sampai di kantor tempat saya mengajar, saya langsung mengurus masalah administrasi dengan cepat. Hampir jam 4 dan perut saya yang keroncongan sudah biasa. Saya makan gorengan yang ada di kantor lalu SMS murid saya minta maaf saya akan terlambat.

Ternyata inilah sesi lucu hari itu. Murid saya, anak gadis kelas 6 SD, langsung telpon dengan mengatakan (dengan suara kenes), “Bu, saya tidak bisa les sore ini, karena saya sibuk ada acara. Saya sudah SMS Ibu kemarin, memang tidak masuk ya?”

READ  My Dad, My Hero

Onde mandee, kalau kita menjadi Guru, seperti saya sejak 1996 (sejak saya Mahasiswi Tingkat 1), yang artinya sudah lebih dari 10 tahun, pasti kita paham kapan anak murid kita itu bohong. Batin pasti bicara☺

Tapi apa saya bisa memastikan anak didik saya itu bohong? Saya bukan dukun, akhirnya saya menghela nafas panjang dan membiarkan dia “lolos” seraya janji dalam hati, saya akan bicara pekan depan untuk mencari tahu apa maksud kata-katanya “Saya sibuk ada acara“.

Karena saya tidak jadi mengajar, Alhamdulilah saya bisa meminta tolong OB membeli gado-gado dan yang lucu, menukar Kompas saya di kantor dengan Republika yang memang langganan di kantor.

Ketika hendak pulang, jam 5 kurang, mungkin karena apa yang telah terjadi, mendadak saya kangen keluarga saya.

Saya tahu Papa saya sedang terapi di RSxx, dan akhirnya saya memutuskan ke sana saja, daripada pulang ke rumah.

Tapi ternyata teguran-Nya untuk saya belum lagi usai.

Ketika menunggu bajaj, entah mengapa saya menunggu sampai mendapatkan bajaj yang bagus, Bajaj 4 Tak. Biasanya saya tidak peduli tentang bajaj yang akan saya naiki, tapi mungkin karena lagi banyak merenung dan saya merasa lelah, saya berpikir mencari bajaj yang lebih nyaman.

Ternyata di sana, ada teguran-Nya yang indah lagi bagi saya.

Saat Bapak tukang bajaj ini mendekat, entah mengapa pandangan mata saya langsung jatuh melihat pada kondisinya yang tidak umum, tapi saya berusaha menutupi perasaan saya dulu.

Saya naik bajaj beliau tanpa menawar ketika beliau menyebutkan harganya.

Tapi akhirnya saya tidak tahan dan bilang, Bapak, maaf ya, saya boleh tanya ya Pak”.

Bapak ini entah mengapa seakan langsung tahu, apa yang hendak saya tanyakan. Beliau langsung terkekeh kekeh, “Tanya apa Mba?”

Bapak…punten, kok Bapak bisa menyetir dengan kondisi Bapak ini?”

Jadi ketika awal Bapak tukang bajaj ini mendekat, saya melihat satu kakinya berisi celana yang kosong sampai paha, yang artinya Bapak ini hanya punya satu kaki dan terlebih lagi saya melihat kruk di samping bangku Bapak ini.

Saya baru sadar lagi, bagaimana kaki yang hanya 1 di bawah kemudi itu bisa mengemudikan bajaj? Saya naik tanpa pikir panjang karena shock lagi dengan teguran yang Allah kasih.

READ  My Dad, My Hero

Beliau tertawa terkekeh-kekeh, “Ya bisa saja Mba, saya bawa bajaj ini seprti orang normal kan? Alhamdulillah.

Bak wartawan saya tanya lagi (maklum “anak” Sastra dan Komunikasi), “Apa Bapak sudah bisa menyetir bajaj sebelum maaf, kaki bapak tidak ada? Dulu mungkin”.

Nga Mba, saya datang dari kampung khusus untuk cari kerja.”
“Terus Bapak belum bisa bawa bajaj sebelumnya?”
Boro-boro Mba.”
Lalu Bapak latihan dulu?”
Nga Mba, saya dikasih tahu sama orang kampung saya suruh datang ke Pak Haji ini, minta kerjaan, ya saya datang ke dia.”
Pak Haji?”
Iya Pak Haji. Dia bajajnya banyak Mba. Ada lebih 20 an: yang bujangan dikasih mess, saya dikontrakin sama beliau.”
Bapak dikasih pekerjaan sama beliau begitu saja Pak?”
Iya Mba, saya dikasih bajaj, bisa nga bawa bajaj? saya bilang bisa. Terus dites, saya bisa langsung bawa, Alhamdulillah. Saya disuruh bawa keluarga saya ke sini, anak saya satu perempuan, SMA, saya dikontrakin rumah. Pak Haji orang baik“,lalu beliau terdiam, seakan tidak mau cerita apa-apa lagi, seakan terharu karena kisahnya sendiri.

Saya apalagi, hanya bisa berkaca-kaca dibelakang memahami betapa Allah telah menegur saya terus menerus hari ini, dengan cara-Nya yang indah melalui hamba-hamba-Nya yang luar biasa.

Syukur bagi mereka bukan hanya di lisan, tapi telah tertanam di hati dengan raut wajah yang ikhlas dan kata2 yang penuh keridhaan, bahkan meski sebenarnya mereka di mata manusia memang memiliki “cacat”.

Ketika turun, saya menyerahkan 50 ribu, ongkos bajaj di awal 25 ribu, dengan lirih saya sampaikan, “Nga usah dikembalikan Pak..itu untuk Bapak“.

Beliau kembali terkekeh-kekeh, seakan menerima uang dari anaknya dan memahami nuansa batin saya sore itu.

Fa bi ayyi alaai Rabbikumaa Tukadzzibaan *Maka, Nikmat TuhanMu yang Mana Yang Kamu Dustakan? (Surah Ar Rahmaan : 13)

Spesial untuk seorang Adik; Ika Prasidiaty

Jakarta, 13 November 2013

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: