My Dad, My Hero

Setiap kita tentu memiliki momen indah bersama Ayah kita masing-masing, begitu juga dengan saya.

Baru-baru ini saya disedihkan oleh kabar dari salah seorang sahabat lama saya, karena Ayahnya berpulang ke Rahmatullah.

Saya bukan sedih karena beliau berpulang, karena kepulangan kita adalah sesuatu yang niscaya, bahkan disanalah rumah kita yang sesungguhnya; tempat kita menuai amal shaleh kita, tempat kita bertemu dengan Kekasih hati kita.

Tapi kesedihan manusiawi saya adalah karena sahabat saya ini telah pindah keluar negeri, untuk menyusul suaminya, sementara dulu beliau biasa berdua saja dengan Ayahnya (karena Ibundanya sudah berpulang lebih dulu dan kakak-kakaknya sudah menikah, jadi Ayahnya hidup berdua dengan sahabat saya ini)

Saya sempat berpikir, dan biasanya ini terjadi di banyak peristiwa yang saya lihat: jika Allah mengambil sesuatu sesuatu dari kita, maka biasanya Allah juga memberikan sesuatu yang lain untuk kita.

Sebelum Ayah sahabat saya ini berpulang, beberapa bulan sebelumnya sahabat saya ini sudah bertemu dengan calon suaminya dan kemudian menikah, Alhamdulillah.

Jadi, kesedihan saya lebih karena dulu beliau biasa berdua dengan Ayahnya, tapi kemudian begitu cepat, Ayahnya berpulang. Seakan memang tugas akhirnya adalah mengantarkan putrinya menikah.

Tetapi kesedihan saya terobati, ketika sahabat saya ini mengatakan, beliau sempat men-talqin Ayahnya di saat-saat terakhir hidupnya melalui telp, Allahu Akbar. Artinya Allah sampaikan bisik kecintaan hati sahabat saya ini untuk tetap bersama sang Ayah, di saat-saat terakhir hidupnya.

Menilik dari kisah beliau, saya merenung beberapa hari ini, meski tema catatan ini, Unforgettable Moment, sudah saya persiapan jauh-jauh hari, dari beberapa bulan sebelumnya, tetapi ternyata tema yang pertama adalah tentang Ayah.

Kembali ke topik. Setelah melihat kisah sahabat saya tersebut dan lalu beliau banyak memposting foto-fotonya bersama Almarhum Bapak, membuat saya sering tersenyum haru. Doa saya untuk beliau dan mohon maaf sahabatku, malam itu saya tidak bisa ke sana, insha Allah kami (sahabat-sahabat lamamu ini) akan ziarah ke makam Bapak.

READ  Pekerja Anak dan Mimpi Kejayaan Kita

Jadi, beberapa hari ini saya merenung akan arti seorang Ayah, yang Subhanallah telah membentuk saya menjadi seperti sekarang ini.

Salah satu momen terbaik saya dengan Papa (begitu saya memanggil beliau) adalah ketika kurang lebih usia saya 6 tahun.

Saat itu saya meminta dibelikan buku-buku pelajaran, lalu karena waktu itu ekonomi keluarga kami masih sulit, Papa membawa saya ke Pedagang buku-buku bekas di Senen..lalu beliau bilang, Ambil buku apa saja yang kamu suka Nak.

Lalu saya ingat sekali, mata saya berbinar-binar dan saya duduk di hamparan buku hahaha! Ini tidak bohong; saya duduk, jongkok, dihamparan buku. Saya ambil buku apapun yang saya suka, tidak cuma buku pelajaran bahkan buku-buku komik; jadilah saya membaca Donald Bebek, HC Anderson, 5 Sekawan, Enyd B., sampai Si Nina.

Dan malam itu ketika pulang, saya membawa sekeranjang buku dan merasa menjadi anak paling kaya dan paling beruntung sedunia.

Buah kebaikan beliau ternyata ternanam di hati: saya menjadi pecinta buku. Saya sanggup memborong buku ketika saya kuliah di Sastra UI. Lagi-lagi lewat Pedagang Senen yang diundang Kampus Sastra kami di setiap akhir semester.

Jangan berpikir bahwa dengan memborong saat itu uang saya berlebih, tidak juga. Saya bahkan sanggup tidak makan malam, hanya beli Ovaltine seharga 1500 di warung roti bakar untuk makan malam karena baru sadar uang saya habis karena borong buku (haha) dan karena saya waktu itu anak kost, maka onde mandee, tahu rasa sendiri kalau boros-boroskan uang.

Dan Papa sangat mengerti kecintaan saya pada buku, meski beliau tidak terlalu suka membaca, kecuali buku komik Ko Ping Hoo sebagai hiburan.

READ  Nikmat Tuhan Mana Yang Kamu Dustakan

Maka, ketika saya menempuh S2 dan ekonomi keluarga kami sudah meningkat, beliau memberi saya uang jajan dan uang buku sebesar 1 juta perbulan, meski saat itu saya sudah bekerja juga.

Bahkan beliau tetap mengapresiasi kecintaan saya pada buku meski sering kesal dan bilang, kamarmu sudah kepenuhan karena buku-buku, lalu beliau mengangkut buku-buku saya dan menaruh di rumah kos-an milik beliau. Dan sedihnya saya tidak pernah sempat mampir kesana, mungkin sudah dimakan rayap, buku2 saya.

Well, dan hari ini beliau berulang tahun, saya bahkan tidak sempat bertemu tadi pagi, tidak sms juga karena pulsa saya habis dan tidak sempat beli pulsa dan agenda saya sampai malam

Jangan berpikir bahwa saya tidak sering ribut dengan beliau, sangking kesalnya beliau sama saya, kalau sudah ribut, biasanya beliau akan bilang; Si Kopeh (Si Keras Kepala, tidak paham bahasa apa hahaha!) dan sedari kecil beliau suka menyanjung saya, Anak Gadis Papa yang cantik dan pintar.

Jadi saya rasa pepatah lama itu benar; Setiap Ayah adalah Pahlawan bagi Anak Perempuannya. Beliau telah menjadi payung bagi saya, meski saya rasa, saya tidak cukup berbakti pada beliau.

Kehilangan sahabat saya akan Ayahnya, semakin menyadarkan saya, akan begitu berharganya kedua orang tua saya, meski tentu saja, kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Happy Milad Papa, Barakallahu laka, semoga Papa diberi kesehatan dan umur yang berkah, diberikan keselamatan dunia-akhirat. Semoga Ika bisa menjadi anak yang shaleha yang akan menjadi ladang amal shaleh Papa di dunia dan di akhirat kelak, aamin ya Allah.

Dipublish di Facebook. Jumat, 21.09.2012 ( @Tawes, sejumput catatan sepenuh Cinta untuk Papa)

READ  Pekerja Anak dan Mimpi Kejayaan Kita

13 Agustus 2020. Ditulis kembali dengan kerinduan yang tidak berujung.

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: