Tiwul dan Kerinduan Rakyat

Hingar bingar awal tahun 2011 ini dirayakan dengan pesta kembang api. Hampir setiap kota di Indonesia khususnya kota besar, merayakannya dengan tradisi ini. Sebuah sumber menyebutkan, Ancol mengeluarkan dana untuk kembang api sebesar 200 juta dan Monas sebesar 50-100 juta, artinya dua tempat itu saja menghabiskan dana 300 juta. Sumber ini juga menyatakan rata-rata pembiayaan kembang api berkisar di angka 10 juta.

Jika kita melihat data di atas, kita jadi bertanya, jika demikian, berapa akumulatif dana yang “dibakar” dalam semalam di seluruh Indonesia? Termasuk di Pulau Dewata, Bali dan tempat-tempat wisata lainnya di seluruh Indonesia? Apakah dana itu memang pantas kita keluarkan untuk sebuah ceremony tahun baru atau sesungguhnya kita menyadari, ada begitu banyak kebutuhan jangka panjang bangsa yang harus kita dipenuhi di atas keinginan keinginan sesaat kita?

Masih di awal tahun ini, setelah hiruk pikuk, kita dikejutkan dengan berita meninggalnya enam orang kakak-adik (yang termuda berusia 3 tahun dan yang tertua 22 tahun) dalam satu keluarga di Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara akibat keracunan tiwul. Penghasilan kepala keluarga ini yang bekerja sebagai buruh penjahit di sebuah indutri konveksi hanya berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 200.000 dan hanya bertahan selama tiga hingga empat hari.

Kenyataan pahit ini sudah seharusnya menjadi renungan bagi semua pihak sekaligus picu bagi pemerintah dan semua elemen masyarakat untuk perbaikan. Tanpa harus saling tuding siapa yang bersalah. Setiap kita akan dituntut pertanggungjawabannya sebesar amanah yang Allah berikan di atas pundak kita.

Sungguh, kita merindukan seorang pemimpin seperti Khalifah Umar bin Khaththab ra. Ketika beliau tahu ada di antara rakyatnya kelaparan, seorang janda dengan anak-anaknya, serta merta Umar ra mengirim beras dengan mengangkatnya sendiri ke punggungnya. Ketika pelayannya meminta agar dia saja yang membawa bebannya, Khalifah Umar ra malah marah dan berkata, apakah kamu juga mau menanggung bebanku di akhirat nanti, ketika Allah bertanya padaku?

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: