The Highest Love

Lets Share:

Mencintai adalah fitrah manusia; Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (Surah al ‘Imran :14)

Melalui ayat di atas, kita memahami manusia memiliki fitrah mencintai hal-hal indah duniawi. Artinya, hal indah duniawi tersebut tidak dilarang selama tidak melebihi porsi cinta kita pada Allah. Sebagaimana ditegaskan di akhir ayat; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.

Yang dimaksud dengan Tempat kembali yang baik di sini adalah Surga. Secara implisit, ayat ini mengatakan cinta kita yang tertinggi hanya untuk Allah. Lebih jauh, cinta pada hal duniawi tadi sebenarnya hanyalah sarana  bagi kita untuk menggapai cinta Allah. Karenanya, Allah memberikan ancaman bagi hamba yang menomor-duakan cintaNya.

Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (Surah at-Taubah: 24)

Dus, karena cinta pada Allah adalah cinta tertinggi seorang mukmin, maka sepatutnya seorang mukmin mendapatkannya. Cinta ini bisa kita dapatkan dengan beberapa tahap.

Pertama, Mengenal Allah

Tak kenal maka tak sayang. Begitulah juga interaksi mukmin terhadap Allah. Bagaimana mungkin dia bisa mempersembahkan cintanya yang tertinggi pada Allah, jika dia tidak mengenal siapa Allah. Hal ini memiliki implikasi jauh: dia harus senantiasa menuntut ilmu dien (agama) untuk bisa mengenal Allah. Sebagai contoh, apa makna Asma’ul Husna (nama-nama terbaik) Allah dalam kehidupannya.

See also  Menggapai Keberkahan Nikmat Waktu

Kedua, Mencurahkan hati hanya pada Allah

Ketika dia telah mengenal Allah, memahami kedudukan Allah dalam hidupnya, secara otomatis, curahan hatinya hanya akan dia curahkan pada Allah. Hal ini karena hanya  Allah-lah, tempat dia bergantung. Inilah makna terdalam Allahush Shomad; Allah tempat meminta segala sesuatu. (Surah al Ikhlas: 2)

Itulah mengapa Nabi Zakaria tidak putus asa memohon keturunan, meski usianya telah senja.

(yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Dia berkata, “Ya Rabbku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi  uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sungguh, aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal isteriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku seorang anak dari sisi-Mu (Surah Maryam: 3-5)

Ketiga, Rindu pada Allah

Rindu adalah konsekuensi logis cinta. Seorang mukmin yang benar cintanya, pasti merindukan Allah. Rindu mengandung syarat pelepasan, yaitu perjumpaan. Maka, mukmin yang merindukan Allah, pasti menunggu-nunggu waktu perjumpaan denganNya. Hal ini tidak berarti dia melalaikan dunianya, tapi dia senantiasa mengantungkan kerinduannya pada kehidupan akhirat yang abadi; saat dimana dia berjumpa Kekasihnya.

Keempat, Berjuang di jalan-Nya

Cinta tanpa bukti adalah dusta. Mukmin yang benar cintanya akan senantiasa beramal sholeh untuk membuktikan cintanya; cara dia merebut perhatian Allah. Amal-amalnya dia persembahkan untuk Allah. Bahkan meski manusia akan mencelanya, dia akan tetap beramal. Atau bahkan, meski ada amal yang dia sembunyikan, dia akan tetap beramal; rahasia indah antara dia dan Kekasihnya..

Inilah puncak terbaik seorang mukmin,..Allah ridha terhadap mereka, mereka pun ridha terhadap Allah ..(Surah al Bayyinah: 8)

Dan di detik terakhir nafasnya, alangkah indahnya panggilan Kekasihnya,

Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Surah al Fajr: 27 – 30)

See also  Amal Shaleh Buah Indah Iman

Wallahu a’lam

Jakarta, 27 November 2020

Bunda Azzam
Latest posts by Bunda Azzam (see all)

Lets Share:

Leave a Reply

%d bloggers like this: