Surah Al-Qashash: Kisah Kebesaran Nabi Musa as dan Cerita Negeri Akhirat

Lets Share:

Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. (Surah Al Qashash: 83)

Surah Al-Qashash adalah sebuah surat di dalamnya menceritakan beberapa kisah. Sebagaimana arti nama surah ini, Cerita-cerita. Dimana salah satu metode pengajaran penting dalam Al-Quran adalah bercerita tentang masa lalu agar orang-orang beriman mampu menangkap hikmah (pesan dan pelajaran) dari kisah-kisah tersebut.

Surah ini bercerita tentang (sebagian besar) kisah Nabi Musa as, mulai dari latar histori sosial politik kelahirannya sampai ketika beliau telah mendapatkan wahyu dan risalah untuk berdakwah kepada pemimpin saat itu, yaitu Fir’aun dan panglima perangnya, Haman dan seorang hartawan di masa itu, yaitu Qarun.

Nabi Musa as adalah salah seorang nabi besar dengan perjalanan kehidupan yang juga luar biasa. Latar histori kelahirannya diwarnai dengan kondisi politik dan kekejaman yang dilakukan Fir’aun saat itu kepada kaum Nabi Musa as, yaitu Bani Israil. Ketika itu, Fir’aun membunuh semua anak laki-laki Bani Israil (yang baru lahir) dan membiarkan hidup, jika yang lahir anak perempuan. Hal ini dilakukan Fir’aun karena ketakutannya atas mimpinya, bahwa ada seorang anak kecil yang merebut singgasananya dan para pentakwil mimpinya mengatakan anak kecil itu kelak datang dari Bani Israil. Bani Israil di masa Fir’aun adalah kaum budak dan Al-Qur’an membahasakan kondisi Bani Israil  sebagai orang-orang yang tertindas.

Namun, rekayasa keji ini luput dari Nabi Musa as. Atas takdirNya, kelahiran Nabi Musa tidak diketahui oleh tentara Fir’aun, karena ibu Nabi Musa as menyembunyikan kehamilannya dan mengasingkan diri ke dalam hutan. Keajaiban-keajaiban terjadi dalam perjalanan hidupnya. Masa kecilnya malah berada dalam istana Fir’aun dengan berada di dalam pengasuhan istri Fir’aun (karena istri Fir’aun memang tidak memiliki anak) dan Allah kembalikan Musa as juga kepada ibunya, sebab Musa as tidak mau menyusu kepada siapapun, kecuali kepada ibunya.

BACA:  Filosofi Cacing Seorang Lazy Gardener

Maka hiduplah Musa as dalam lingkungan istana Fir’aun sampai masa remajanya. Atas hikmah Allah, Musa as mendapat pendidikan, pengasuhan, dan fasilitas sebagaimana layaknya anak raja, dan bahkan beliau adalah penyejuk hati (kecintaan) istri Fir’aun. Hal ini membentuk Musa as menjadi pribadi yang besar dibandingkan kebanyakan nasib kaumnya saat itu.  Bahkan, sebagaimana nabi Allah lainnya, Musa as dikaruniakan hikmah dan pengetahuan. Namun, setelah kejadian “pembunuhan” tidak sengaja yang dilakukan Musa as kepada salah seorang laki-laki kaum Fir’aun yang sedang menganiaya seorang laki-laki Bani Israil, beliau harus melarikan dari wilayah kekuasan Fir’aun.

Mengapa pembunuhan itu dikatakan tidak sengaja? Karena Musa as hanya meninjunya sekali dan orang tersebut langsung mati. Memang nabi Allah ini dikaruniakan fisik yang luar biasa. Nabi Musa as pun menyesali kejadian ini dengan langsung bertaubat dan berdoa… Musa berdoa, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku.“ Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Al Qashash: 15-16)

BACA:  Wabah Ulat Bulu

Dengan latar histori masa kecil Musa as yang berada di bawah pengasuhan istri Fir’aun dan “pelarian” Musa as sebagai buronan Fir’aun, maka dapat dibayangkan betapa angkuhnya Fir’aun ketika akhirnya, Nabi Musa as datang kepada Fir’aun sebagai Nabi Allah yang membawa seruanNya. Sifat kejam dan kekuasaan Fir’aun juga telah membuatnya lupa diri dan bahkan mengangkat dirinya sendiri menjadi Tuhan bagi manusia saat itu.

Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa, yaitu tatkala Rabbnya memanggilnya di lembah suci ialah lembah Thuwa: Pergilah kamu kepada Fir’aun, susungguhnya dia telah melampaui batas dan katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)  Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepada-Nya? Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mu’jizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).  Maka, ia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya.  (seraya) berkata, “Akulah Rabbmu yang paling tinggi. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Rabbnya). (Surah An-Naazi’aat : 15-26)

Betapa besarnya hikmah yang bisa kita ambil dari kisah Nabi Musa as ini, khususnya terkait dengan (godaan) sifat hakiki manusia ketika berkuasa; angkuh, sombong, dan sulit menerima kebenaran, bahkan mengingkari kebenaran.

Betapa saat ini, kita mendapati banyak manusia lupa diri dan berlaku kejam ketika telah berkuasa dan memerintah. Gelombang “kemerdekaan” yang menyapu negara-negara di Timur Tengah (Arab Spring) misalnya adalah juga karena rakyatnya telah sekian lama tertindas dan teraniaya. Kemanusiaan dan nurani hilang dari hati seorang pemimpin, ketika mereka berbuat zalim. Membunuh demi melanggengkan kekuasaan adalah hal lazim pada akhirnya. Namun, penguasa seperti ini pada hakikatnya akan terus dibayangi ketakutan atas dosa-dosanya sendiri. Dalam kebesarannya, dia hidup ketakutan dan kesepian. Selalu waspada akan bahaya yang mengintai, sehingga seringkali membutuhkan pengawalan berlebihan terus-menerus serta mencurigai banyak pihak.

BACA:  Ramadhan; antara Iman, Harap, dan Amal

Betapa indahnya, pribadi seorang sahabat besar, Khulafaur Rasyidin kedua, Umar bin Khattab ra. (634-644 M), yang kekuasaannya saat itu bahkan sudah membentang mencapai Afrika, yang tertidur di bawah pohon, tanpa pengawalan seorang pun. Saat melihat hal itu, seorang Delegasi Raja Romawi berkata dengan kagum, “Anda telah memerintah dengan adil, maka Anda merasa aman dan dapat tidur dengan nyenyak, wahai Umar..”

 

Bunda Azzam

Lets Share:

Leave a Reply