Saat Hidup Semakin Keras, Hati Harus Semakin Lembut

Beberapa hari ini di waktu senggang, saya sengaja mendengarkan ilmu dari beberapa pakar tentang kondisi ekonomi negara kita akhir-akhir ini. Saat ini kita tidak asing mendengar istilah inflasi, resesi ekonomi dan istilah- istilah lain yang “menggetarkan hati”.

Namun sebelumnya saya ingin memberikan apresiasi saya untuk para Pakar Ekonomi, Pakar Politik, Pakar Kesehatan (Dokter dan sejawatnya), Pengusaha, Pakar Komunikasi dan masih banyak lagi kalangan yang telah berjasa dengan membagi ilmu mereka dengan semangat di media-media sosial dan sangat bagus dalam penyampaiannya. Inilah salah satu manfaat besar media sosial, khususnya bagi saya channel YT. Saya bisa menyimak banyak ilmu dari banyak pakar, hanya dengan duduk diam mendengarkan bahkan sambil makan cemilan.

Kembali ke topik masalah ekonomi negara kita.

Efek pandemik selama dua tahun kemarin, saat ini mulai semakin terasa di bidang Ekonomi. Efek peperangan yang terjadi di belahan dunia lain, bahkan meskipun letaknya sangat jauh secara geografis dengan kita, ternyata juga memiliki efek kepada kita. Harus kita akui, kondisi ini terjadi secara global dan negara kita pun tidak luput darinya.

Saat harga-harga barang pokok merangkak naik, tentu yang paling merasakan dampaknya adalah para Ibu Rumah Tangga. Para Srikandi ini harus tetap bisa mengolah budget konsumsi Rumah Tangga yang biasanya tidak mengalami peningkatan, namun mereka tetap harus membeli kebutuhan pangan sehari-hari yang harganya sudah dan terus merangkak naik.

BACA:  Tiwul dan Kerinduan Rakyat

Bahkan dalam beberapa kasus, kenaikan harga tesebut sangat tidak masuk akal bagi kebanyakan rakyat kecil. Sebutlah kenaikan gila-gilaan harga minyak goreng dan cabe merah di pasaran. Tentu kita bisa mengatakan ada alasan dan sebab di balik itu kan? Iya tentulah, namun apa kebanyakan rakyat kecil paham? Dan kalaupun paham, mereka tetap membutuhkan solusi. Pertanyaannya, solusi apa yang terbaik untuk mengatasi hal semacam ini untuk mereka?

Maka kemudian kita mendengar, sebagian masyarakat menghimbau untuk makan yang direbus saja, lebih sehat. Atau himbauan jangan makan cabe dulu. Tentulah semua himbauan tadi sifatnya sementara dan tidak menyentuh esensi jawaban atas sebuah permasalahan. Rasanya jika jawaban-jawaban pragmatis seperti itu selalu kita ke depankan, kita akan sukses menjadi pribadi-pribadi yang malas berpikir, malas menganalisa, dan akhirnya malas mencari jalan keluar yang tepat dan terbaik.

Dalam perenungan akan “kerasnya” himpitan masalah ekonomi ini, membuat saya teringat akan kisah lucu dan menyentuh dari Asisten Rumah (ART) saya beberapa tahun lalu.

ART saya biasa belanja pagi-pagi dan kalau belanja, ART saya biasanya belanja di pasar terdekat dengan berjalan kaki. Pasar itu pun bukan pasar dalam arti sebenarnya. Kita biasa menyebut dengan istilah Pasar Kaget. Karena pasar itu hanya buka di sepanjang pagi saja dan terletak di jalan masuk sebuah komplek perumahan yang dekat dengan  komplek perumahan saya. Para Pedagang hanya akan berjualan sampai sekitar jam 10 dan dagangannya pun hanya digelar di atas tikar atau di atas meja kayu yang nantinya akan mereka bersihkan.

BACA:  Sedekah dan Keberkahan Doa

Ternyata di pagi tersebut, ART saya tidak belanja di sana, karena sudah kehabisan ayam yang saya minta (Jadi di pasar kaget ini hanya ada 1 pedagang ayam, 1 pedagang daging dan beberapa pedagang ikan)

Akhirnya ART saya ini ke pasar yang sesungguhnya, yang letaknya kira-kira jaraknya 1,5 km lebih dan artinya kalau bolak balik sekitar 3 km lebih.

Ketika pulang, ART tersebut bilang sama saya, Lama ya Mba? soalnya saya belanjanya di Pasar XXX.

Iya tidak apa Mba.

Dan si Mba pun menyerahkan uang kembalian belanjanya kepada saya dan saya menerima saja tanpa bertanya apa-apa.

Tapi terus ART saya ini bilang, Saya lama soalnya saya jalan kaki mba, saya ngga mau naik angkot.

Hah? baru saya kaget, Eh kenapa Mba ngga mau naik angkot?

Iya, biar aja, saya jalan kaki. Soalnya angkot pakai naik segala, jadi 4000 (Dulunya 3000)

Saya langsung ngomel, Ya ampun Mba, lain kali naik angkot ya, jangan jalan kaki, piye toh? Bayar saja, jadi 8000 kan? Uang saya ini.

Ah ngga mau Mba, kenapa juga dia pakai acara naik segala? Wong deket juga tetep ngga boleh.

Ya ampun Mba. Wajar angkot naik, kan BBM naik. Lagipula kalau semua kaya mba begini, mereka bagaimana dong? Kehilangan penumpangnya? Pokoknya lain kali naik angkot ya Mba, pakai saja uangnya.

ART saya ini senyum-senyum dan masih ngeyel saat menjawab lagi, Biar saja jalan kaki to Mba, biar saya sehat.

Mba sudah sehat kerja di sini, pokoknya lain kali naik angkot. Saya tegaskan kepada dia.

BACA:  Dilema Ibu Pekerja

Akhirnya si Mba mengangguk-angguk.

Sepintas kisah ini terkesan lucu, namun sebenarnya tidak dan bahkan hal tersebut terjadi jauh tahun berselang, sekitar 5 tahun lalu. Maka pertanyaannya adalah bagaimana dengan kondisi real masalah-masalah mendasar rakyat kita hari ini? Apakah jawabannya harus datang dari Pemerintah semata? Tentu tidak. Mari kita sama-sama memberikan jawabannya dan kita menjadi bagian dari solusi atas permasalahan bangsa tercinta ini.

@PA, 29 July 2022

 

 

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: