Saat Daniel Mananta Berdialog Dengan UAS: Merekat Luka Merajut Cinta

Lets Share:

Indonesia disebut sebagai salah satu negara besar di dunia, bukan hanya karena luas geografis dan jumlah penduduknya, dimana luas geografisnya sebesar 1,905 juta km dengan data jumlah penduduk di tahun 2022 sebanyak 273, 5 juta jiwa. Besarnya luas negara kita bahkan bukan terdiri dari satu daratan utuh seperti negara Uni Soviet dulu misalnya, tapi negara kita merupakan negara besar kepulauan yang terdiri dari 17.508 pulau (baik yang termasuk pulau besar maupun pulau kecil).

Sebagai perbandingan sederhana, kita bisa melihat data yang sama untuk dua negara tetangga terdekat, yaitu Malaysia dengan luas sebesar 329.847 km dan jumlah penduduk 32,37 juta dan Singapura dengan luas wilayah 728,6 km dan jumlah penduduk sekitar 6 juta.

Kebesaran negara kita bahkan bukan hanya dari sisi luas geografis dan jumlah penduduk tersebut, namun lebih dalam lagi karena di negara tercinta ini, kita memiliki keaneka ragaman budaya yang terdiri dari 6 agama, 300 kelompok etnik suku yang terpecah menjadi 1.340 suku bangsa dengan 718 bahasa daerah di Indonesia. Belum lagi kita bicara tentang berbagai macam baju adat, berbagai macam rumah adat, berbagai macam tarian daerah, dan termasuk tentu makanan khas daerah yang berbeda-beda.

Sebagai sebuah bangsa yang sangat besar, kita tentu harus pintar dan bijak mengelola perbedaan-perbedaan yang ada. Semboyan Bhineka Tunggal Ika dan Dasar Negara Pancasila telah menjadi perekat sejak negara ini berdiri dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh rakyat kita bahkan sebelum negara ini diproklamirkan.

Sang Merah Putih | Dio Hasbi Saniskoro – pexels

Di sisi lain, seiring pesatnya kemajuan teknologi digital dan kekuatan media digital, kita dihadapkan dengan isu-isu perpecahan antar anak bangsa yang sengaja dihembuskan dan dikelola oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang memang memiliki niat untuk memecah belah bangsa dan melemahkan negara ini. Kekuatan media sosial saat ini tidak hanya membawa nilai kebaikan dan kemanfaatan, namun juga membawa  penumpang gelap berupa membanjirnya berita-berita hoax, fitnah atas sekelompok masyarakat, pembunuhan karakter atas seseorang, adu domba antar suku, penipuan digital dan masih banyak lagi.

BACA:  Etika Bermedia Sosial: Belajar Dari Kasus Eko Kuntadhi dan Ning Imaz

Berkaitan dengan perkembangan pesat media digital, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dimana rakyatnya memiliki tingkat interaksi tinggi dengan media sosial. Data yang dirilis Januari 2022 misalnya menyebutkan ada sekitar 191,4 juta pengguna media sosial di Indonesia atau setara dengan 68,9 % dari jumlah populasi kita. Sungguh ini angka yang sangat besar dan menunjukkan betapa rakyat Indonesia aktif dalam berbagai platform media sosial.

Tercatat media sosial yang paling banyak digunakan di Indonesia berturut-turut dalam rentang 5 besar adalah YouTube, Whatsapp, Instagram, Facebook, dan Twitter selama tahun 2022. Data terakhir menyebutkan ada sekitar 2,5 miliar pengguna YouTube di seluruh dunia dengan pengguna aktif setiap harinya mencapai 122 juta dengan rentang usia terbesar ada di usia 15-35 tahun. Negara yang berturut-turut merupakan 3 negara terbesar pengguna YouTube adalah India (467 juta), Amerika Serikat (240 juta) dan Indonesia (127 juta).

Berbagai jenis tayangan di YouTube tersedia dan salah 1 jenis tayangan yang populer beberapa dekade terakhir adalah jenis podcast (jenis tayangan audio atau visual yang membahas sebuah topik tertentu dari narasumber yang dinilai kompeten)  dan salah satu channel yang menyediakan jenis tayangan ini adalah chanel Daniel Mananta dengan label DMN (Daniel Mananta Network) yang memiliki 1,52 juta subscriber.

Dalam salah satu jenis tayangan podcastnya Daniel Tetangga Kamu, Daniel kerap mengundang narasumber dari berbagai jenis kalangan profesi dan berbagai latar agama untuk meminta mereka berbagi cerita tentang kisah-kisah berharga dalam kehidupan mereka, terutama saat titik terendah dalam kehidupan mereka dan bagaimana mereka mampu melaluinya

Salah satu narasumber yang Daniel undang adalah Ustad Dr. Abdul Somad (UAS). Salah satu Ustad yang sangat terkenal di Indonesia. Nama besarnya masih menjadi magnet bagi berbagai kalangan, baik dari kalangan ummat Islam ataupun ummat beragama lainnya. Tayangan Daniel Tetangga Kamu dengan UAS ini tayang dengan durasi 1 jam 22 menit di tanggal 29 Agustus 2022 dan terus mendapat apresiasi hangat dari para pengguna YouTube. Tercatat saat Editorial ini diturunkan Part 01 tayangan ini telah mendapat viewer sebesar 2,1 juta, 79 ribu likes dan 6.999 komentar. Redaksi memperkirakan jumlah ini akan terus bertambah dan menjadi salah satu upload populer dari DMN.

Pertanyaannya, apa yang menarik dari dialog antara Daniel dan UAS ini? Jawabannya adalah nilai Ketuhanan, Cinta Kasih, Kejujuran, Penghormatan dan Toleransi.

Daniel dengan cerdas mampu menggali dalamnya lautan ilmu dari seorang UAS, dengan berani bertanya akan isu-isu sensitif yang melekat pada UAS dan dengan rendah hati Daniel memberikan apresiasi yang tinggi terhadap UAS.

UAS pun dengan kedalaman ilmunya berucap hati-hati, menerangkan hal-hal yang sulit dengan analogi yang sederhana (sebagaimana ciri khas dakwah beliau selama ini) dan dengan kejujuran mengklarifikasi hal-hal yang dituduhkan kepada dirinya selama ini.

Komunikasi Antara Pribadi diantara 2 sosok ini mengalir dengan wajar, hangat dan saling menghormati. Keberanian Daniel bahkan terlihat dengan tidak dipotongnya dialog atas hal sensitif meski UAS sudah mempersilahkan Daniel untuk memotong dialog tersebut.

Keharuan terasa mengalir karena dua sosok ini (secara informal dan diakui atau tidak) mewakili kalangan Islam dan kalangan Kristen yang terkadang dibenturkan dengan isu perpecahan yang sengaja diciptakan untuk memecah belah anak bangsa.

BACA:  Saat Hidup Semakin Keras, Hati Harus Semakin Lembut

Apresiasi diberikan para netizen yang melihat tayangan tersebut diantaranya komentar dari Luke yang mendapat 2,4 ribu like yang mengatakan; “Dulu saya salah satu yang negative thinking pada UAS. Setelah Daniel & UAS bersilahturahmi lalu berdialog, ternyata yang disampaikan tidak semenakutkan seperti isu-isu yang telah beredar. Terima kasih Daniel & UAS krn sudah memberi kesempatan untuk saling mengenal & menyayangi satu sama lain. Janji gak bakal gampang tersulut & terpecah belah setiap mendekati pemilu.”

Diantara tsunami tayangan media sosial yang mungkin mayoritas melelahkan hati, mengandung muatan hoax dan bahkan memfitnah dan mengadu domba, dialog Daniel dan UAS ini bak oase di gurun pasir. Apresiasi tinggi netizen memperlihatkan pada dasarnya manusia akan mencari tayangan yang baik, informatif, penuh kasih sayang yang menjawab kehausan ilmu dan kebutuhan jiwanya.

Media sosial memang ibarat pisau bermata dua; kita bisa menggunakan pisau tersebut untuk memasak makanan yang lezat atau sebaliknya melukai seseorang hingga dia terkapar jatuh.

Bagi Redaksi, tayangan dialog Daniel dan UAS jelas adalah tayangan lezat yang kaya ilmu serta perlu ditonton untuk dinikmati hati dan diresapi jiwa. Apakah benar pernyataan ini? Silahkan Pembaca untuk menilainya sendiri.


Lets Share:

Leave a Reply