Rumah-Mu Milik Kita Semua

Setelah sekian tahun melakukan itikaf, sejak tahun pertama kuliah saat masih Strata 1, baru kali ini saya mendengar, ada anak-anak diusir dari Mesjid untuk itikaf karena ribut.

Anak-anak gadis ini ada 5 orang dan usia mereka kurang lebih belasan tahun. Menurut cerita mereka, mereka diusir oleh Imam Mesjid tempat mereka itikaf dan itu karena ada sekelompok ibu-ibu yang meminta mereka keluar dengan alasan mereka ribut.

Akhirnya mereka pindah dan tiba di Mesjid kami di atas jam 10 malam dan dalam kondisi hujan turun dengan deras.

Saya tanya, Kenapa memangnya kok kalian diusir?

Katanya karena kita ribut Bu.

O, memang kalian ngapain?

Ngga ngapa-ngapain, kami cuma shalat, baca Quran, dan baca doa.

O..memang sebelumnya belum pernah itikaf di Mesjid itu?

Sudah.

Nah, terus kok diusir?

Soalnya yang ribut-ribut itu sebenarnya anak laki-laki Bu, tapi terus ibu-ibu di sana menyangka gara-gara kami, anak-anak laki-laki itu ribut.

O..saya mengangguk saja, menyimpan rasa geli dalam hati dan mulai terbayang suasananya.

Anak-anak gadis ini datang jam 10 lewat dan lapar berat, sehingga mereka langsung makan cemilan yang disediakan mesjid dan bikin teh manis juga.

Melihat kondisi mereka, saya diskusi dengan seorang teman, karena rasanya alasan apapun juga, meski mereka betul ribut sekalipun, tidak pantas mengusir anak-anak ini dari Mesjid.

BACA:  Tips Menghilangkan Bekas Jerawat di Wajah

Apalagi di usia mereka ini, wajar sekali kalau mereka beritikaf masih dengan sedikit main-main, ribut atau ngobrol. Yang penting adalah kita memberi tahu mereka dan menerima mereka dengan tangan terbuka dan hangat.

Karena khususnya bagi saya, rasanya sangat mengharukan melihat mereka di usia sebelia itu sudah mau itikaf, bahkan seingat saya, di usia 13 tahun, saya baru terawih dengan teratur di Mesjid.

Meski memang baru kemarin malam, saya membentak beberapa anak laki-laki yang sedang itikaf, tapi hal itu karena mereka tengah malam naik ke atap Mesjid dan secara tidak sengaja saya dan teman melihat. Setelah saya bertanya dengan nada tinggi, kenapa mereka disana, mereka ngacir menghilang di balik gelapnya atap.

Jika kita benar mencontoh Rasul SAW, maka seharusnya kita mencontoh betapa sabarnya beliau saat menghadapi anak-anak. Kita bisa melihat hal ini dari diamnya Rasul SAW ketika Hasan naik ke atas punggungnya dan seakan main kuda-kudaan, ketika Rasul saw bersujud.

Rasul SAW diam saja, terus bersujud dan bahkan membiarkan Hasan terus bermain di atas punggungnya sampai Hasan sendiri yang turun karena sudah puas bermain. Sampai dikisahkan para Sahabat sudah gelisah, (karena mereka menjadi Makmum) dan mengira lamanya Rasul SAW bersujud karena telah terjadi sesuatu pada beliau.

BACA:  Nikmat Tuhan Mana Yang Kamu Dustakan

Saya pribadi memiliki kisah sendiri, ketika saya dan Nenek itikaf. Usia Nenek memang telah udzur, 76 tahun ketika itu dan pendengaran beliau mulai kurang.

Yang terjadi adalah beliau mengaji dengan sangat keras di Mesjid dan sampai membuat saya malu. Saya sebenarnya mengerti hal itu karena beliau sudah kurang pendengarannya.

Namun Alhamdulillah, beliau mengaji dengan sangat indah…kata orang, Mengaji Padang dan ketika beliau wafat, dengan sedih saya berpikir, tidak ada anak dan cucunya yang bisa mengaji seperti beliau, kecuali 1 orang Tante saya.

Kembali ke cerita Nenek saya.

Karena malu mendengar Nenek mengaji sekeras itu, saya minta beliau agar pelan-pelan saja mengajinya. Saya ingat Nenek saya cemberut, ngambek, dan akhirnya berusaha lebih pelan, tapi sayang hal itu tidak lama bertahan.

Tidak sampai 10 menit suara menjadinya keras kembali dan saya pasrah akhirnya.

Lalu saya dipanggil oleh seorang Sahabat Mama dan dinasihati. Karena beliau orang Sunda, beliau memanggil saya Neng.

Neng, Nenek biarkan saja mengaji sekeras itu ya, tidak apa-apa. Alhamdulillah Nenek masih bisa itikaf, masih bisa mengaji, kita yang muda ini yang harus paham, harus mengerti dan jangan meminta Nenek yang mengerti kita. Kita maklum saja dan bersyukur Nenek masih bisa ibadah, ya Neng ya? Jangan diminta Nenek untuk kecilin suaranya, dia teh tersinggung, tidak apa ya Neng.

Saya ingat saya berkaca-kaca mendengar nasihatnya, hanya bisa menganguk dan mencium tangan beliau.

BACA:  Saat Hidup Semakin Keras, Hati Harus Semakin Lembut

Jadi saya rasa, anak-anak gadis dan anak-anak laki yang sekarang itikaf pun sama. Mereka harus disambut dengan rasa syukur dan haru karena telah datang ke rumah-Nya di usia sebelia itu, apalagi ini mengenai itikaf.

Keberkahan rumah-Nya ada untuk semua yang datang untuk mencari rahmat dan cintaNya di malam-malam terbaik di bulan Ramadhan yang mulia.

Selamat datang Anak-anakku; Rumah-Nya Ini Milik Kita Semua.

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: