Pekerja Anak dan Mimpi Kejayaan Kita

Hari Anak Nasional Indonesia, Sabtu, 23 Juli 2011 baru kita peringati. Pemerintah Indonesia menetapkan ‘Anak Sehat’ sebagai tema utama tahun peringatan di tahun 2011 ini. Berbicara tentang Anak Indonesia, mau tidak mau, kita berbicara juga tentang Pekerja Anak di Indonesia. Mereka yang ada dalam rentang usia sekolah (5-17 tahun), tetapi harus bekerja karena satu dan banyak faktor. Pertanyaannya; Berapa sesungguhnya jumlah Pekerja Anak di Indonesia?

Data Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS)) menunjukkan jumlah anak (10-17 tahun) yang bekerja pada tahun 2005 di Indonesia jumlahnya telah mencapai 35,0 juta orang.

Istilah Pekerja Anak yang dipergunakan dalam survei ini mencakup semua pekerja anak yang berusia 5–12 tahun tanpa memperhatikan jam kerja mereka, Pekerja Anak berusia 13–14 tahun yang bekerja lebih dari 15 jam per minggu dan Pekerja Anak usia 15–17 tahun yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu. Dengan melihat data-data diatas, kita memahami betapa kompleks permasalahan Pekerja Anak di Indonesia.

Suatu saat, pertengahan 2007, Penulis memakai jasa seorang Anak Tukang Ojek Payung. Awalnya penulis mengira telah memilih seorang anak muda (karena dia cukup tinggi). Hal yang sering sengaja penulis lakukan, karena tidak tega memakai jasa tukang ojek payung usia anak-anak.

Namun, dalam perjalanan, penulis sadar ternyata tukang ojek payung ini juga masih anak-anak, kira-kira sebaya dengan anak didik penulis. Tingkah lakunya sopan dan dia berjalan dengan menunduk. Memakai kaos dan celana kain.

Sampai di tujuan, penulis tidak tahan dan bertanya, Apa kamu masih sekolah? Dia mendongak dan tersenyum, Masih Bu, Saya kelas 3 SMP. (Berani benar, seusia rata-rata anak didik penulis). Saya bertanya lagi, Apa kamu jadi tukang ojek payung ini untuk mencari tambahan uang sekolah? Dia menjawab lagi dengan senyum santun, Betul Ibu. Saya terdiam, menahan keharuan dan berkata lagi, Jangan putus sekolah ya Nak, jangan menyerah. Dia menatap penulis dalam-dalam (dan saat itu penulis sadar, dia seorang anak yang berkemauan keras dan berkarakter) lalu menjawab, Tidak Ibu, insha Allah saya akan terus sekolah. Saya sudah dapat beasiswa untuk SMA nanti, dan dia tersenyum bangga. Saya terdiam, kaget dan hanya mampu bersyukur di dalam hati. Saya memberikan upah 10 ribu dan terlihat dia sangat senang dan mengucapkan terima kasih. Saya membalasnya dengan mengucapkan terima kasih juga, namun dalam hati saya bicara, Bukan Nak, Ibu yang berterima kasih kepada Kamu.

Published  on Fokus Buletin Mimbar Jumat, DAI

Jakarta, 29 Juli 2011

READ  Nikmat Tuhan Mana Yang Kamu Dustakan
Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply