Aku (Pasti) Datang Memenuhi PanggilanMu

Di hari Tasyrik dan Jumat barakah ini, saya ingin bercerita tentang pengalaman spiritual Almarhumah Mama (juga Papa) ketika beliau berdua naik Haji di tahun 2003.

Saya ingin menyampaikan sisi pengalaman spiritual beliau saat berazzam (bertekad) menunaikan Haji, semoga menjadi hikmah bagi kita yang masih berazzam untuk datang ke rumah-Nya.

Saya lupa tepatnya kapan, tapi, sejak akhir 1997, beliau mulai sering “ribut” dengan Papa untuk meminta naik Haji.

Saat itu, kerinduan Almarhumah Mama mulai mendesak dihatinya. Sampai tiap ada kenalan atau tetangga yang naik Haji, beliau terpekur sedih. Setiap ada berita Haji di TV, mata beliau berkaca-kaca.

Ribut disini dalam arti beliau mulai mendesak suaminya untuk mau berangkat haji dan saat itu Papa masih menunda dengan alasan “belum siap jadi pak Haji” #eh?

Artinya menurut logika Papa, kalau sudah Haji nanti beliau akan punya beban-beban sendiri, harus lebih shaleh, harus lebih sabar, and so on, and so on …

Inilah logika sebagian kita. Kita jadi baik dulu, baru naik haji, jadi shalehah dulu, baru menutup aurat. Padahal sesungguhnya berbuat baiklah dulu, hidayah akan semakin dekat, insya Allah.

Akhirnya semakin runcing, masalah beda pendapat ini, sampai saya mendapati Mama ribut besar untuk masalah ini. Saya menenangkan Mama dengan mengatakan, “Ayo Ma, kita memperbanyak doa. Kita berdoa di setiap shalat, di setiap sujud, kita titip doa kepada setiap kenalan kita yang berangkat ke sana, supaya Mama dan Papa cepat Allah panggil.”

Beliau terpekur terdiam, karena salah satu upaya beliau adalah minta berangkat sendiri meski tanpa Papa. Seperti juga ada beberapa ibu-ibu di kompleks rumah kami yang melakukan hal yang sama.

Tapi sayangnya Papa tidak mengijinkan dan ada perbedaan pendapat fiqih juga disini dan sepanjang yang saya pahami, sebagian besar pendapat Ulama masih mengatakan, wanita tidak sah atau tidak boleh Haji tanpa mahramnya.

BACA:  Allah Memampukan Yang Diundang-Nya

Akhirnya, untuk membantu azzam Mama, selama 5 tahun, 1997 sd 2003, saya terus mmperbanyak doa. Tidak ada doa yang terlewat ketika sujud, ketika shalat, bahkan ketika waktu azzan dan iqamat. Tidak ada Saudara, Sahabat, Kenalan, yang berangkat Haji kecuali saya mintakan doa mereka untuk kemudahan orang tua datang ke Baitullah.

Sampai di Agustus 2003, sepulang kerja saya mendapati rumah bernuansa habis terserang badai hehehe. Ternyata Mama ribut lagi dengan Papa (karena saat itu menjelang musim Haji lagi) plus pada kesempatan ribut kali ini, Mama “menyumpahi suaminya”.

Mama sumpahin Papa?

Ya, Mama bilang aja, Kalau Papa nggak mau naik Haji juga, Mama sumpahin jadi miskin!

Hah? Ya ampun Ma, kok gitu?

Biarin aja… Papamu juga kaget, kok lo gitu? Masa gw disumpahin jadi miskin? Yang susah nanti lo juga?

Biarin! Biar jadi miskin lagi kayak dulu awal kawin, jadi nggak ada rasa dosa nggak naik Haji. Buat apa punya harta juga nggak bisa ibadah!

Masya Allah, saya tidak bisa buat apa-apa, kecuali menyimpan rasa nano-nano di hati. Sedih, lucu, dan haru juga. Wajah Mama sudah penuh rasa kesal dan kesedihan.

Terus Papa bilang apa Ma?

Diam aja Papamu. Awas aja, bener Mama doain biar dia miskin!

Saya hanya bisa senyum kecut dan mencoba menenangkan.

Tapi ternyata Subhanallah, Papa di Agustus tahun 2003 itu, mengurus Haji untuk beliau dan Mama langsung ke Depag dan sebagai Pengusaha yang biasa lobi-lobi, surat dan ijin keluar dalam waktu 1 hari, yang artinya di tahun 2003 itu juga, beliau berdua akan berangkat. Allahu Akbar!

Saya bilang sama adik laki-laki saya.

Manjur juga sumpah si Mama. Hehehe Papa takut disumpahin miskin sama istrinya.

Adik saya jawab, Jadi menurut kamu, karena sumpah Mama, Papa bergerak?

Lah jadi?

Bukan cuma itu Kak, cerita adik saya. Setelah ribut itu, besoknya gw makan soto Betawi sama Papa di tempat si Babe. Terus si Babe nggak ada. Si Papa tanya sama anaknya.

(Papa saya model konsumen yang maunya kalau makan mesti dimasakin sama kokinya yang paling jago)

BACA:  Mukjizat Doa Yang Menghantar Petani Miskin Ke Baitullah

Si Babe mana? Kok kamu yang masak?

Babe lagi berangkat Haji Bos. Alhamdulillah.Babe sudah nabung, 25 tahun, akhirnya bisa juga berangkat tahun ini. #Subhanallah.

Menurut adik saya, Papa saya langsung diam dan tercenung. Bahkan sepanjang jalan di hari itu beliau terus diam berpikir dan terharu.

Besoknya beliau mengurus ke Depag, dan hanya dalam waktu 1 hari itu juga, Papa dan Mama terdaftar sebagai calon Jamaah Haji di tahun itu. Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillah ilham.

Cerita ternyata masih berlanjut. Tepat menjelang jadwal kepergian orang tua, beliau berdua akhirnya bisa ikut jamaah Haji ONH plus dengan kemudahan yang datang dari-Nya semata.

Pemilik Biro ONH ini adalah Ayah teman adik saya dan teman Papa juga jika shalat Jumat. Jadi ketika beliau tahu Papa akan naik Haji, beliau menawarkan harga khusus, untuk naik haji bersama dengan biro beliau saja karena beliau mengatakan kurang kuota. Berapa kurangnya? Hanya kurang 2 orang dari 90 orang yang akan berangkat dari biro haji beliau.

Ketika berangkat, di tahun 2003 itu, pesawat Garuda orang tua adalah pesawat terakhir yang bisa mendarat di Jeddah. Setelah itu, karena ada masalah airpot tax yang belum dibayar Pemerintah kita (begitu katanya), membuat jamaah haji kita menghadapi banyak masalah seputar pendaratan pesawat. Sampai-sampai ada pesawat kita yang terpaksa singgah dulu di Bombay (India), dan akhirnya banyak jaamah Haji yang harus menginap di bandara.

Satu pengalaman saat haji yang paling berkesan dari Mama adalah ketika beliau kehilangan tas paspornya, yang didalamnya ada perhiasan emas beliau.

BACA:  Bersedekah Dengan Diancam? Ke Laut Aja!

Mama memang wanita luar biasa, yang pintar menabung, meski Papa tidak memanjakan beliau. Tabungan beliau itu lalu beliau belikan perhiasan emas yang sering beliau jual begitu saja, jika ada keluarga yang membutuhkan tanpa beliau meminta Papa.

Tas paspor itu tertinggal saat beliau wudhu di Mesjid Nabawi. Dengan gemetar beliau balik lagi kesana, tas itu sudah hilang dan saat itu, sudah entah berapa ribu manusia yang berwudhu di sana.

Beliau lalu shalat dua rakaat, dan berdoa seraya menangis, sambil mengatakan kepada Allah.

Ya Allah, Engkau tahu hamba mengumpulkan harta itu untuk membantu saudara-sadara hamba yang membutuhkan. Karena itu, jika Engkau ridha, hamba mohon kembalikanlah kepada hamba.

Beliau terus berdoa sambil menangis dan pasrah.

Lalu tiba-tiba, ketika beliau sedang khusyu dalam doanya, seorang wanita cantik menepuk pundak Mama dan tersenyum, seraya mengembalikan tas paspor Mama yang hilang itu. Subhanallah…

Saking kagetnya, Mama tidak mengucapkan terima kasih lagi melainkan langsung sujud syukur dan setelah selesai sujud, wanita itu sudah pergi. Subhanallah, Allahu Akbar.

Wanita itu begitu cantiknya, sampai-sampai menurut istilah Mama, dia cantiknya seperti Bunda Maria.

Begitu indahnya Haji beliau, sampai setiap tahun Mama masih selalu merindukannya. Kami sekeluarga berencana untuk umroh bersama jika beliau kembali sehat, tapi takdirNya berkata lain, Mama berpulang lebih dulu.

Ya Allah, panggillah hamba ke rumahMu. Hamba pasti datang memenuhi panggilanMu

#Sepotong kenangan, penuh cinta untuk Mama.

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: