Optimisme Di Balik Kenaikan Harga BBM

Lets Share:

Di awal bulan September 2022 ini, kita masih beradaptasi dengan pengumuman resmi pemerintah tentang kenaikan harga BBM. Pengumuman ini disampaikan Presiden Joko Widodo langsung di Istana Negara dengan sejumlah menteri yang mendampinginya di hari Sabtu 3 September 2022. Kenaikan harga BBM meliputi semua harga minyak bersubsidi, mulai dari solar, pertalite hingga pertamax dan berlaku efektif jam 14.30 WIB. Pengumuman ini akhirnya menjawab isu-isu tentang kenaikan harga BBM yang sudah beredar di masyarakat beberapa waktu sebelumnya.

Harga Pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000/liter, harga Solar subsidi naik dari Rp 5.150 menjadi Rp 6.800/liter dan harga Pertamax dari Rp 12.500 jadi Rp 14.500/liter. Pemerintah  mengatakan kenaikan harga BBM merupakan keputusan yang terpaksa dilakukan di tengah kondisi sulit saat ini. Pemerintah juga mengatakan kenaikan BBM ini mempertimbangkan kenaikan harga minyak dunia dan kenaikan subsidi energi yang terus meningkat.

Kita tentu memahami sebuah kebijakan atau sebuah keputusan di ambil setelah kita mempertimbangkan berbagai hal, mendapatkan berbagai informasi, dan menganalisa semua hal tersebut, sebelum akhirnya menghasilkan sebuah keputusan. Hal ini juga berlaku untuk Pemerintah sebelum akhirnya mengeluarkan pengumuman tersebut, terlebih lagi hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak.

BACA:  Saat Daniel Mananta Berdialog Dengan UAS: Merekat Luka Merajut Cinta

Namun di sisi lain, kita pasti akan berhadapan dengan efek domino kenaikan harga BBM ini. Kenaikan harga-harga kebutuhan masyarakat, terutama harga sembako akan dihadapi masyarakat, dan terutama yang paling akan menghadapi hal ini adalah kalangan masyarakat  menengah kebawah. Kenaikan harga atas sembilan bahan pokok yang meliputi beras, gula pasir, minyak goreng dan mentega, daging sapi dan ayam, telur ayam, susu, bawang merah dan bawang putih, ikan dan garam beryodium akan semakin memberatkan masyarakat kecil. Secara sederhana kita bisa mengatakan bahwa kenaikan harga sembako ini akan membuat masyarakat kecil, terutama para ibu rumah tangga, harus semakin pandai mengolah pendapatan (yang tidak meningkat) untuk tetap dapat menghidupi dapur dan menyediakan pangan sehari-harinya dengan tetap memperhatikan 4 sehat 5 sempurna untuk keluarganya.

Efek domino kenaikan harga BBM ini juga berpengaruh langsung pada para penyedia layanan jasa transportasi. Penyesuaian tarif merupakan hal yang mungkin harus ditempuh untuk menyeimbangkan kenaikan harga BBM ini, dan dampak kenaikan tarif tersebut juga akan kembali menyentuh masyarakat kecil yang menjadi pengguna jasa transportasi.

Menyikapi kenaikan harga BBM ini, Asosiasi Mitra Pengemudi Ojek Online berharap Pemerintah akan memberikan subsidi transpostasi kepada mereka, melalui Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Bagi Hasil (DBH) sebesar 2 % yang akan diberikan oleh Pemerintah Daerah. Sampai Editorial ini diturunkan pemberlakuan kenaikan tarif ojek online baru yang tertuang di Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No.KP 564/2022 ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.

BACA:  Etika Bermedia Sosial: Belajar Dari Kasus Eko Kuntadhi dan Ning Imaz

Salah satu hal penting harus Pemerintah selesaikan kedepannya dalam membantu masyarakat mengatasi efek domino ini adalah memastikan Subsidi BBM tepat sasaran bagi masyarakat yang memang membutuhkannya dan yang berhak mendapatkannya.  Hal ini sangat penting agar kita bisa menahan sebagian efek domino yang akan dihadapi oleh masyarakat dan kita berharap masyarakat bisa survive dengan segala kondisi ini. Merupakan kewajiban pemerintah untuk mengawal kebijakan ini dengan berbagai kebijakan lainnya yang pada dasarnya merupakan perlindungan bagi masyarakat kecil.

Redaksi mengutip sebagaimana dikatakan Direktur Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Berly Martawardaya, BBM jenis Pertalite misalnya dikatakan dinikmati oleh masyarakat mampu sebesar 80 % dan Solar bahkan sebesar 95 % dan karenanya sangat penting bagi Pemerintah untuk mengatur keseimbangan hal ini.

Redaksi juga melihat pentingnya Pemerintah semakin menggarap dengan lebih serius untuk Pemanfaatan Energi Baru Terbantukan (EBT) dan Indonesia memiliki syarat-syarat yang cukup untuk kita mengembangkan hal ini.

Kebijakan kenaikan harga BBM ini mungkin memang tidak terhindarkan, namun Rakyat tetap harus dijaga rasa optimismenya dan dilindungi dengan berbagai kebijakan lainnya untuk dapat menghadapinya. Sebagaimana bunyi teks Pembukaan UUD 45  merupakan kewajiban pemerintah negara Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.

BACA:  Saat Daniel Mananta Berdialog Dengan UAS: Merekat Luka Merajut Cinta

Sayup- sayup lagu September Ceria dari Vina Panduwinata terdengar, dan begitulah seharusnya. Optimisme dan keceriaan harus tetap menjadi semangat kita semua dalam menghadapi hari-hari kedepan sebagai bahan bakar yang akan membantu kita menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dengan kepala dingin dan seuntai senyum. Semoga


Lets Share:

Leave a Reply