Mukjizat Doa Yang Menghantar Petani Miskin Ke Baitullah

Kisah Ketiga pengalaman naik haji yang terasa paling luar biasa bagi saya. Saya mendengarnya secara tidak sengaja di minggu siang, di salah satu acara dakwah di televisi swasta.

Kenapa saya bilang tidak sengaja, karena minggu siang saya jarang ada di rumah, apalagi menonton TV, bahkan saya jarang menonton TV Nasional kecuali untuk siaran berita.

Tapi takdirNya yang indah membuat saya ada di rumah minggu siang itu dan tertarik mendengar siaran ulang ceramah keagamaan di Stasiun TV Nasional dari seorang Ustad besar yang baru berpulang ke rahmatullah; Ustad Habib Mundzir.

Tema yang beliau bawakan adalah Mukjizat Doa, yang intinya dengan keikhlasan dan tulusnya doa seseorang kepada Allah, bisa menjadi sebab dijawabnya doa seseorang kepada Allah. Bahkan karena nilai keikhlasan doa dan ridha kepada Allah itu sendiri, Allah akan jawab doa seseorang jauh melebihi apa yang dia doakan.

Kisah Ketiga yang saya angkat adalah cerita beliau tentang doa seorang Petani miskin yang berdoa untuk bisa naik Haji.  Kisah nyata ini terjadi di Kalimantan.

Biasanya kalau kita berdoa, salah satunya karena kita masih memiliki keyakinan atas usaha kita sendiri artinya dalam doa kita, masih ada faktor ikhtiar sebagai usaha kita mencari jalan agar doa kita terjawab.

BACA:  Allah Memampukan Yang Diundang-Nya

Hal itu memang sesuatu yang juga dianjurkan oleh syariat; doa dan ikhtiar.

Tapi bagaimana jika kita ingin sesuatu tapi sesuatu itu begitu mustahilnya, dan tempat kita berharap hanya Allah? Karena buat Allah, tiada hal yang mustahil.

Inilah yang terjadi pada Petani ini, beliau bilang kepada istrinya.

Bu, Bapak ada doa yang selalu Bapak minta sama Allah setiap Bapak sujud.

Doa apa Pak?

Bapak mau naik Haji, sebelum Bapak mati.

Aduh Pak, macem-macem aja, makan aja kita susah Pak.

Subhanallah, Ustad Mundzir mengatakan begitu miskinnya mereka, sampai untuk makan saja susah, yang artinya secara logika, naik Haji sudah pasti hanya mimpi.

Ah pokoknya saya tetap doa begitu Bu… sebelum Bapak mati, Bapak harus naik Haji dulu.

Ya sudah Pak… nggak apa, doa saja… doa saja kan juga dapat pahala.

Petani tersebut ternyata terus berdoa, meski terasa tidak mungkin, dengan ikhlas di setiap sujud.

Saya harus naik Haji, caranya bagaimana, terserah Allah saja. Dengan keyakinan Allah akan menjawab doanya, begitu tekadnya. Sampai suatu hari paculnya terkena sesuatu yang keras, ternyata itu paculnya terkena berlian sebesar jari kuku laki-laki dewasa.

BACA:  Aku (Pasti) Datang Memenuhi PanggilanMu

Petani ini bahkan tidak tahu itu berlian. Hanya dia mengerti sepertinya itu batu berharga lalu dia bawa ke toko berlian.

Di toko berlian, beliau diam saja, bingung mau mengatakan apa dan akhirnya ditegur sama Karyawan Toko.

Bapak mau beli apa? Kalau mau beli cangkul, Bapak salah masuk, itu toko perkakas di sana (karena beliau ke toko dengan pakaian petaninya).

Nggak, saya mau jual sesuatu.

Jual apa?

Jual ini… beliau lalu memperlihatkan berliannya.

Karyawan Toko tersebut kaget lihat berlian sebesar itu dan tidak bisa memperkirakan berapa harga berlian itu.

Petani itu bilang lagi, Saya mau tahu harganya berapa, apa cukup untuk saya dan istri saya naik haji?

Karena tidak bisa memperkirakan, karyawan itu memanggil bosnya. Bosnya juga kaget lalu memanggil Cukongnya.

Cukongnya sama kagetnya dan tidak tahu juga berapa harga berlian tersebut. Dipanggil lagi atasannya, yaitu Tokeknya, dan dia tidak bisa juga memperkirakan berapa harga berlian tersebut #Subhanallah.

Akhirnya dipanggillah yang terakhir; Buaya-nya (hehe dari cerita Ustad Mundzir ini saya jadi tahu pasti urutannya. Bos, Cukong, Tokek, dan Buaya).

Buayanya ini bilang sama Bapak Petani Miskin ini. Bapak tahu harga berlian ini? Berapa yang Bapak mau?

Saya tidak tahu Pak..saya hanya mau saya dan istri saya bisa naik Haji..kira-kira cukup tidak?

Bapak hanya mau naik Haji sama istri Bapak??! Pak..harga berlian Bapak ini, 50 Milyar..Bapak bisa naik Haji sama semua orang di kampung Bapak..ini saya kasih 50 M..rumah dan mobil..Bapak bisa naik Haji dengan siapapun yang Bapak mau bawa.. #Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillah ilham

Petani itu berangkat Haji, tidak hanya dengan istrinya, tetapi juga bersama Saudara2 nya dan sampai sekarang menjadi Pengusaha di Kalimantan.

BACA:  Bersedekah Dengan Diancam? Ke Laut Aja!

Semoga Allah ampuni khilaf Ustad Mundzir, Allah luaskan kuburnya dan Allah tempatkan di tempat yang terbaik disisiNya, aamiin ya Allah.

Allah akan menjawab doamu, sebagaimana getaran jiwamu & prasangka baikmu kepadaNya.

10.30 pm. 26.10.2013
Dalam perjalanan, hampir dua jam mengetik @mobile… semoga menjadi ibrah bagi diri sendiri.

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: