Menggapai Kemuliaan Malam Lailatul Qadr

Malam Seribu Bulan

Malam Seribu Bulan, begitulah kata yang dinisbatkan pada Lailatul Qadr. Al Qur’an  menegaskan kemulian malam ini bahkan lebih baik dari seribu bulan.

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (Surah al-Qadr: 1-3)

Lailatul Qadr adalah salah satu diantara banyaknya keberkahan bulan Ramadhan. Malam ini adalah rahmat Allah yang besar yang dikaruniakan pada ummat Rasul saw. Sebab dengan malam ini, ummat Rasul saw bisa mendapatkan nilai ibadah sebagaimana mereka beribadah selama lebih dari 1000 bulan, atau setara dengan 83 tahun, Artinya secara usia, usia ibadah ummat Rasul saw dapat menyamai usia ibadah ummat nabi-nabi Allah yang terdahulu, meski mungkin secara fisik usia mereka tidak sampai.

Sebagai ilustrasi, mari kita kita lihat usia ummat Nabi-nabi terdahulu. Satu contoh bisa kita lihat ketika Al Quran menyebutkan tentang dakwah Nabi Nuh as kepada kaumnya,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (Surah Al Ankabut 14)

Melalui ayat ini, kita bisa melihat usia dakwah Nabi Nuh as kepada kaumnya, yaitu 950 tahun. Lalu berapa usia Nabi Nuh as sebenarnya? Meski ada beberapa pendapat, pendapat yang paling kuat menurut para Ulama adalah pendapat dari Ibnu Abbas ra yang mengatakan umur Nabi Nuh as adalah 1050 tahun. Ibnu Abbas ra. mengatakan, “Allah Ta’ala mengutus Nabi Nuh ’alaihi salam ketika berumur 40 tahun, lalu tinggal diantara kaumnya dan mendakwahi mereka kepada Allah selama 1000 tahun kurang 50 tahun, lalu hidup setelah badai taufan selama 60 tahun sampai manusia bertambah banyak dan menyebar.

Jadi, usia Nabi Nuh as adalah 1050 tahun menurut pendapat Ibnu Abbas ra dan begitu pula berarti rata-rata usia ummatnya dan begitu pula usia mayoritas para Nabi (kecuali Nabi Isa as. yang menurut riwayat berusia 33 tahun.). Usia para Nabi tersebut jauh lebih lama dibandingkan dengan usia Nabi kita Muhammad saw, 63 tahun, dan berarti demikian juga usia ummatnya, seperti apa yang beliau sampaikan juga, Umur ummatku antara 60 hingga 70 tahun.

Karenanya bisa kita lihat, betapa besarnya kasih sayang Allah swt yang menurunkan malam Lailatul Qadar khusus untuk ummat Nabi Muhammad saw agar nilai ibadah kita bisa menyamai usia ummat nabi Allah swt lainnya.

Di malam ini, Allah swt memerintahkan malaikat Jibril menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki, dan keberkahan di tahun tersebut hingga tahun yang akan datang, sebagaimana dinyatakan di dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul. (Surah Ad Dukhan: 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan di malam ini para malaikat turun dari setiap lapisan langit  ke bumi untuk mengaminkan setiap doa manusia hingga terbit fajar. Lailatul Qadr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya, tanpa ada keburukan hingga terbit fajar.

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar (Surah al-Qadr: 4-5)

Lalu, bagaimana cara mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadr itu? Rasul saw memberikan petunjuknya bagi kita untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir, Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari)

Lebih jauh, kita disunnahkan mencarinya secara khusus di hari-hari ganjil. Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan. (HR. Bukhari) 

Berdasarkan hadist di atas, kita disunnahkan mencarinya di malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23, 25, 27 dan 29.

Namun, mengingat perbedaan waktu di setiap negara—yang mengakibatkanadanya perbedaan malam, Ulama besar abad ini, DR. Yusuf Qardawhi mengatakan yang lebih utama bagi kita adalah mencari malam Lailatul Qadr ini di setiap sepuluh malam terakhir (tidak hanya di malam ganjil saja). Terlebih kapan pastinya datangnya malam Lailatul Qadr tersebut (meski malam tersebut memiliki tanda-tanda) adalah rahasia Allah semata. Tanda-tanda malam Lailatul Qadar itu juga bisa berbeda, sesuai dengan keadaan alam yang berbeda di setiap negara. Meski secara umum, Ibnu Hajar dalam Kitab Fathu Bari mengatakan tanda-tanda Lailatul Qadar diantaranya adalah keesokan harinya matahari bersinar dengan terang dan cerah, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin, serta dimalam harinya (saat Lailatul Qadar) hujan turun rintik-rintik dengan angin yang menghembus halus.

BACA:  The Highest Love

Dalam bukunya Fiqh Shiyam, DR Yusuf Qardhawi menjelaskan Allah swt sengaja menyembunyikan kapan tepatnya waktu (tanggal) terjadinya malam Lailatul Qadar ini memiliki hikmah yang sangat besar bagi kita. Beliau mengatakan, jika kita telah yakin dengan pasti ia pasti datang di malam tertentu, maka semangat kita terhadap ibadah pasti akan mengendur, kecuali untuk beribadah di malam Lailatul Qadar yang telah diketahui tanggalnya. Kita pasti memiliki semangat menghidupkan malam itu (tetapi hanya di malam itu). Ketidakpastian tersebut menyebabkan kita selalu tetap semangat beribadah sepanjang malam terakhir Ramadhan bahkan sepanjang Bulan Ramadhan. Dan tentu kita akan memaksimalkan di sepuluh malam terakhir. Sekali lagi, pada ketidakjelasan ini terdapat kebaikan yang sangat banyak baik terhadap pribadi maupun terhadap jamaah (kelompok). (Fiqh Shiyam, halaman 169)

Amalan di Malam Lailatul Qadr

Karenanya dengan semua kemuliaan malam tersebut, Rasul saw mensunnahkan ummatnya melaksanakan itikaf di sepuluh malam terakhir untuk mendapatkan kebaikan malam tersebut. Itikaf secara syariat adalah uzlah (mengasingkan diri) di waktu yang telah ditentukan (di 10 hari terakhir Ramadhan) dengan berdiam diri di mesjid dalam rangka taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).

Aisyah ra berkata, Rasulullah saw jika memasuki al ‘asyrul awakhir’ (sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan) maka beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (istri-istrinya). Kata ‘mengencangkan kain’ di sini adalah kiasan dari bersungguh-sungguh beribadah. Adapun amalan yang dilakukan Rasul saw di malam yang mulia ini adalah;

Pertama, Mendirikan shalat malam

Sepuluh malam terakhir ini adalah saat yang paling tepat dan paling baik bagi seorang Mukmin untuk bermunajat kepada-Nya. Dalam shalat malam yang khusyu, seorang Mukmin akan merasakan kedekatan batin dengan Rabb-nya, ketenangan hati dalam melihat petunjuk-Nya, dan kelezatan beribadah dalam perasaan ber-khalwat (berdua) denganNya. Bahkan, shalat adalah ibadah yang paling utama diantara ibadah mahdhah lainnya, sebagaimana Allah swt nyatakan.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Surah Al ‘Ankabuut : 45)

Jika kita melihat Rasul saw, kita bisa melihat bagaimana luar biasanya beliau dalam mendirikan shalat. Aisyah ra dalam satu kesempatan bahkan pernah meriwayatkan bagaimana kaki Rasul saw bengkak karena lamanya beliau berdiri dalam shalat malamnya. Jika Rasul saw yang maksum (terjaga dari dosa) dan sudah Allah swt ampuni dosa-dosanya yang telah lalu, sanggup beribadah dengan luar biasa seperti itu, maka sudah seharusnya kita, ummatnya, mencontoh dan berusaha semaksimal mungkin sebagaimana beliau.

Dalam kesempatan lain, para sahabat radiyallahu anhum juga meriwayatkan bagaimana ketika mereka menjadi makmum dibelakang Rasul saw dalam shalat Isya, Nabi saw saat itu membaca dalam rakaat pertamanya, Surat Al Baqarah sampai pertengahan Surat An Nisaa, yang artinya beliau membaca sekitar 4 juz hanya dalam rakaat pertamanya saja. Subhanallah.

Kita syukuri saat ini, di banyak mesjid di bulan Ramadhan ini, kita dapati para Imam yang telah Hafidz Qur’an. Dimana mereka mampu menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat terawih nya yang mengkhatamkan 1 juz setiap malamnya bersama para jamaah shalatnya. Dan sesungguhnya melaksanakan qiyamul lail di malam lailatul qadar merupakan salah satu amal terbaik sebagaimana tuntunan Rasul saw,

…dan siapa yang melakukan qiyamul lail pada malam-malam lailatul qadar karena iman dan penuh harap (pahala) dari Allah,  maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

BACA:  Menggapai Keberkahan Nikmat Waktu

Kedua, Tilawah Al Qur’an

Nama lain Bulan Ramadhan adalah Syahrul Qur’an, yaitu Bulan Al Qur’an. Sebab, memang di bulan Ramadhan inilah, Allah swt menurunkan Al-Quran.

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)… (Surah Al Baqarah : 185)

Membaca Al-Qur’an di malam ini adalah salah satu ibadah yang paling berkesan bagi jiwa. Sebab dengan membaca ayat-ayat-Nya, seorang Mukmin seakan mendengar langsung taujih (pengarahan) Allah swt bagi diri dan kehidupannya. Dengan membaca ayat-ayat-Nya, seorang Mukmin akan semakin menyadari betapa besar kasih sayang dan rahmat Allah swt kepadanya. Dan dengan membaca ayat-ayat-Nya, hatinya akan semakin lembut dan mudah untuk menerima petunjuk-petunjuk-Nya.

Bahkan dalam sebuah hadits, Rasul saw memberikan analogi indah tentang keutamaan seorang Mukmin yang membaca Al Quran;

Perumpamaan Mukmin yang membaca Al Qur`an bagaikan buah limau, baunya harum dan rasanya lezat; dan perumpamaan Mukmin yang tidak membaca Al Qur`an bagaikan buah kurma, rasanya lezat dan tidak berbau; dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al Qur`an bagaikan buah raihanah, baunya harum dan rasanya pahit;  dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca AlQur`an bagaikan buah hanzhola, tidak berbau dan rasanya pahit. (HR Bukhari dan Muslim)

Hanya di Bulan Ramadhan rasanya memang, ada kekuatan yang berlimpah ruah untuk berlomba-lomba dalam ibadah, sehingga seorang Mukmin sanggup untuk khatam Al Quran di bulan ini  berkali-kali; 1 kali, 2 kali, 3 kali, dan seterusnya. Hal ini memang sangat dianjurkan karena di bulan inilah, Rasul saw mengulang kembali hafalannya kepada malaikat Jilbril yang turun setiap malam di Bulan Ramadhan untuk mengecek kembali hafalan            Al Quran Rasul saw.

Bahkan, mereka yang membaca Qur’an-nya masih terbata-bata, seharusnya tidak perlu malu dan semakin terpacu untuk tetap belajar dan membaca Al Qur’an, khususnya di bulan           Al Quran ini. Apalagi dalam sebuah hadits, Rasul saw mengatakan Allah swt akan memberi kebaikan di setiap hurufnya.

Siapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka baginya 1 kebaikan. Dan 1 kebaikan akan dilipatgandakan sampai dengan 10 kali lipat. Saya tidak mengatakan “Alif lam mim” itu satu huruf, tetapi “Alif” itu satu huruf, “Lam” itu satu huruf dan “Mim” itu satu huruf. (HR At Tirmidzi)

Ketiga, Memperbanyak doa

Memperbanyak doa adalah hal mutlak bagi seorang Mukmin. Sebab, seorang Mukmin yang benar cintanya pada RabbNya, pasti akan terus menerus bermunajat dengan-Nya melalui doa-doanya. Doanya adalah bukti ketundukan hatinya pada Rabb-Nya. Doanya adalah bukti kelemahan seorang hamba dihadapan Rabb-Nya, sekaligus doanya adalah senjatanya dalam mengarungi kehidupan ini. Lebih jauh, kita dianjurkan memperbanyak doa di malam ini, sebab malaikat akan mengaminkan semua doa. Begitu banyaknya malaikat di malam ini, sampai Rasul saw dalam sebuah riwayat mengatakan jumlah malaikat yang turun ke bumi di malam itu melebihi jumlah pasir yang ada di bumi.

Lebih dari itu, Allah swt secara khusus telah menempatkan satu firman-Nya tentang doa, yang terletak diantara rangkaian ayat-ayat tentang ibadah puasa—ayat 183 sampai ayat 187 Surah Al Baqarah, yaitu di ayat 186 Surah Al Baqarah.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Surah Al Baqarah:186)

Hikmah yang besar tentu bisa kita rasakan dan ia tersirat di dalam ayat ini; karena Allah swt menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya yang berdoa kepada-Nya, setelah terlebih dulu hamba-Nya mematuhi segala perintah-Nya dan beriman kepada-Nya.

Di sisi lain, mengapa Allah swt menempatkan ayat tentang doa ini diantara rangkaian ayat-ayat-Nya tentang puasa? Hal ini tidak lain tidak bukan karena;

Pertama, orang yang berpuasa memiliki keutamaan untuk dikabulkan doanya di sisi Allah swt, sebagaimana dikatakan oleh Rasul saw,

Tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak, Imam (Pemimpin) yang adil, orang berpuasa ketika berbuka dan doa orang yang didzalimi (HR. Tirmidzi)

BACA:  Hikmah Puasa Ramadhan

Hadits yang lain bahkan menyebutkan bahwa doa yang berpuasa tidak akan tertolak dan itu artinya sepanjang dia berpuasa dan terutama di waktu menjelang dia berbuka puasa.

Kedua, karena keutamaan malam Lailatul Qadar itu sendiri dimana semua malaikat yang turun, akan mengaminkan semua doa yang  dimunajatkan dimalam tersebut.

Sebagaimana disebutkan di awal, di malam ini, Allah swt memerintahkan malaikat Jibril untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki, dan keberkahan di tahun tersebut hingga tahun yang akan datang. Karena itu, sudah seharusnya banyak doa dimunajatkan agar Allah swt memberikan ampunan dan rahmat-Nya bagi masa kehidupan kita ke depan.

Ketiga, Rasul saw memerintahkan kita untuk memperbanyak doa di sepuluh terakhir Ramadhan dengan doa yang paling utama yaitu memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu, memohon surga-Nya, dan dibebaskan dari api neraka.

Sesungguhnya Allah swt menjanjikan mereka yang bersungguh-sungguh dalam ibadahnya di bulan Ramadhan ini, yang semata hanya karena iman dan mengharapkan ridha dan pahala dari Allah swt, akan Allah swt ampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan dia kembali laksana fitrah.

Dalam sebuah haditsnya yang panjang, Rasul saw mengatakan,

….dan bertaubatlah kepada Allah atas dosa-dosa kalian. Angkatlah tangan kalian dalam doa di waktu-waktu shalat kalian. Sesungguhnya itu adalah sebaik-baik waktu dimana Allah melihat hamba-hamba-Nya dengan penuh rahmat. Menjawabnya jika mereka memanggil, menyambutnya jika mereka menyeru, memberinya jika mereka meminta, dan mengabulkannya jika mereka memohon kepada-Nya. Hai sekalian manusia, sesungguhnya jiwa kalian tergadai dengan amal perbuatan kalian. Maka, lepaskan gadai itu dengan istighfar, sesungguhnya punggung kalian terberati oleh dosa-dosa kalian, maka ringankanlah dengan sujud kalian yang panjang…

Keempat, karena doa adalah senjata orang beriman, sebagaimana perkataan Rasul saw,

Doa adalah senjata bagi orang-orang Mukmin, tiang bagi agama, dan nur bagi langit dan bumi. (HR. Hakim)

Dalam dimensi ukhuwah dan sosial, betapa indahnya dan kuatnya arti doa bagi seorang Mukmin. Sesungguhnya Allah swt akan melihat doa-doa kita semua, terlebih lagi, doa-doa kita bagi saudara-saudara kita dibelahan bumi manapun yang saat ini sedang tertimpa ujian, baik itu peperangan, atau bencana alam atau mungkin kelaparan. Saat ini, saudara-saudara Muslim kita di berbagai negara masih ditimpa banyak persoalan, peperangan seperti di Palestina dan Syuriah, kelaparan di Somalia, atau tekanan dalam menjalankan kehidupan keagamaan seperti di Rohingya dan masih banyak lagi.

Dalam dimensi spiritual, doa bagi seorang Mukmin kepada Mukmin lainnya adalah bukti cintanya yang berlandaskan iman dan bahkan akan syafaat (penolong) bagi dirinya sendiri.

Doa seorang Muslim kepada saudaranya yang Muslim tanpa diketahui olehnya adalah mustajab; (ketika dia berdo’a) akan ada didekatnya seorang malaikat muwakkal (pesuruh); dimana setiap dia berdoa untuk saudaranya itu dengan sesuatu kebaikan (malaikat itu) akan berkata untuknya: Amin! dan bagi engkau kebaikan yang sama. (HR Muslim)

Lebih jauh, Rasul saw mengatakan siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka dia tidak termasuk golongan kami (kaum Muslimin).(HR. Thabrani)

Artinya, jika secara bantuan fisik dan harta kita belum mampu atau belum maksimal, doa adalah senjata yang harus terus kita munajatkan untuk saudara-saudara kita yang membutuhkannya, dan jika kita tidak peduli, bukan tidak mungkin murka Allah swt akan datang.

Dan dalam batas ketundukan seorang hamba yang sangat membutuhkan rahmat dan ampunan-Nya kelak di hari akhir, Rasul saw menganjurkan kita untuk memperbanyak sebuah doa; Allahhumma innaka affuwwun karim, tuhibbul afwa, fa’fuannaa.

‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Suka Memaafkan, maka maafkanlah kami.’

Bunda Azzam
Latest posts by Bunda Azzam (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: