Menggapai Keberkahan Nikmat Waktu

Lets Share:

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al ‘Ashr 1- 3)

Tidak terasa kita saat ini sudah berada di penghujung bulan di tahun 2020 dan sebentar lagi akan memasuki tahun 2021. Semangat  kita dalam memasuki tahun 2021 M akan terukur dalam rentang waktu itu sendiri. Evaluasi dan resolusi adalah salah satu ikhtiar kita menjaga nikmat waktu dan mengisi semaksimal mungkin agar waktu berbuah kebaikan.

Surah Al-‘Ashr merupakan salah satu surah pendek (hanya 3 ayat), tetapi memiliki kandungan nilai sangat dalam. Imam Syafii  mengatakan surah ini adalah satu surah yang paling sempurna petunjuknya dengan berkata, “Jika manusia mau merenungkan surah ini, sudah cukuplah itu baginya.”

Surah ini dimulai dengan qasam (sumpah) Allah akan waktu, dilanjutkan dengan penegasan manusia hakikatnya selalu dalam keadaan rugi, kecuali 3 golongan.

Pertama, Mereka yang Beriman.

Modal pertama waktu adalah keimanan. Iman adalah landasan amal. Iman menuntut penerimaan total diri kita akan Zat Yang Maha Sempurna dan tunduk pada semua aturan-aturanNya, tanpa pilih-pilih. Mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Iman meminta semua niat amal hanya untuk satu tujuan; keridhaan Allah. Apapun aktivitas kita: belajar, bekerja, berkeluarga, berpolitik dan seterusnya. Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepadaKu (adz-Dzariat: 56)

Kedua, Mereka yang Beramal Shaleh.

Modal kedua waktu adalah amal shaleh. Nabi saw mengatakan, “Sesungguhnya iman dibenarkan oleh hati, dinyatakan oleh lisan, dan dibuktikan oleh perbuatan.”

Waktu bagi mereka yang beriman adalah ladang amal shaleh. Keimanan mereka tidak hanya di hati dan lisan, tetapi nyata dalam perbuatan. Mereka memahami waktu adalah kesempatan emas “menabung” amal. Bahkan baik pujian maupun cercaan, tidak akan menyurutkan amal shaleh mereka. Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, “Orang yang ikhlas adalah orang yang tetap amalnya, baik dia dipuji ataupun dicerca”.

Modal pertama dan kedua ini memiliki hubungan dua arah. Artinya, semakin baik keimanan, secara otomatis, maka akan semakin meningkat juga amal shaleh. Sebab, amal shaleh memang buah iman itu sendiri. Inilah jawaban mengapa banyak amal shaleh yang terkesan mustahil dan jauh, tetapi di tangan seorang mukmin yang memiliki keimanan yang kokoh, amal itu terealisasi.

See also  The Highest Love

Di tangan seorang Muhammad al Fatih, seorang Raja yang baru berusia 21 tahun, Islam sampai ke Kota Konstantinopel (sekarang Kota Istambul, Turki) pada tahun 1458 M. Sebuah amal shaleh yang dia persembahkan untuk menjawab berita Nubuwwah (tanda-tanda kenabian) Rasul saw yang ada dalam sebuah hadis 800 tahun sebelumnya.

Perlu diingat satuan waktu kita adalah satuan amal kita. Rasulullah saw bahkan mengatakan, “Sebaik baik kamu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi manusia.”

Inilah hikmah mengapa ada manusia yang “pendek” usianya, tetapi “panjang” dalam memori, sebaliknya berusia panjang, tetapi “pendek” dalam memori.

Ketiga, Mereka yang Saling Menasehati dalam Kebenaran & Kesabaran

Modal ketiga waktu adalah persaudaraan dalam iman dan sabar. Kehidupan di dunia penuh onak dan duri, dengan setan sebagai panglima kemaksiatan serta bala pasukannya, baik dari kalangan jin maupun manusia. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia (an Naas: 5-6)

Tujuan utama setan hanya satu, mencari teman sebanyak banyaknya di neraka: dendam abadinya pada manusia. Maka, mereka yang beriman  akan menghadapi godaan dan tantangan ini dengan bersatu padu. Kata saling dalam ayat ini menunjukkan makna resiprok—perbuatan timbal balik. Kadang kita butuh di ingatkan ketika “lemah”, di semangati ketika bersedih, dan bahkan di tegur ketika khilaf, dan begitu juga saudara kita di kesempatan lain. Dengan bersama dalam iman dan sabar, mereka akan kuat.

Kebersamaan kita bersama saudara kita adalah sunnatullah untuk menjaga keimanan dan kontinuitas amal sholeh kita. Hal ini karena iman itu sendiri mengalami fluktuasi, al imanu yazid wa yanqudz, iman itu naik dan turun. Inilah sebab mengapa kita perlu saling menguatkan dan bersama-sama dalam iman dan sabar.

See also  Amal Shaleh Buah Indah Iman

Rasulullah saw memberikan analogi indah tentang hakikat pertemanan; “Teman yang baik laksana penjual minyak wangi, jika kamu tidak mendapatkan minyaknya, minimal kamu akan mendapatkan wanginya. Adapun teman teman yang buruk laksana pemantik gas, jika kamu tidak terciprat apinya, minimal kamu akan terkena asapnya (baunya).”

Umar ra berkata, “Saudaramu adalah orang yang akan memberitahumu bahwa ada kalajengking di badanmu (ada keburukan pada diri kita).”

Apa kita sudah menemukan sahabat-sahabat sejati kita, sebagaimana kisah indah dan nyata persaudaraan Islam di antara para sahabat Rasul saw? Apa kita telah menjadi cermin yang indah bagi saudara kita? Sebagaimana hadist Rasul saw, “Mukmin yang satu dengan yang lain laksana cermin.”

Hadist ini mengandung majas (perumpamaan) yang indah dan dalam. Karena ketika  bercermin, kita pasti menginginkan bayangan yang indah. Melalui hadis ini, Rasul saw mengingatkan aib dan  keburukan saudara kita akan terlihat pada diri kita juga, jika kita bersikap cuek dan tidak peduli pada saudara kita.

Kebersamaan ini juga Allah swt nyatakan dalam firman-Nya yang lain, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (Ash Shaff : 4)

Maka, pertanyaannya (sekali lagi), sudahkah kita menemukan sahabat-sahabat sejati kita? Yang akan membantu kita ketika kita kesulitan, yang akan menghibur kita ketika kita bersedih, yang akan mengingatkan kita ketika kita khilaf, yang akan sampai doanya kepada kita, bahkan ketika kita tidak memintanya. Cinta yang tulus dari seorang saudara kita adalah salah satu nikmat-Nya yang luar biasa.

Jika jawaban pertanyaan di atas adalah sudah, alangkah beruntungnya Anda. Dia bisa datang dari kalangan saudara ataupun teman. Kuncinya bersama dia, Anda terjaga dalam keimanan dan kesabaran.

See also  Mencintai Pribadi Junjungan

Seperti kesaksian Ali bin Abi Thalib ra kepada Abu Bakar ra, ketika Abu Bakar meningggal atas persahabatan Abu Bakar ra dengan Rasulullah saw, “Semoga Allah mengasihimu, wahai Abu Bakar. Anda adalah teman akrab Rasul saw, tempat curahan hatinya, tempat menyimpan rahasianya, dan sahabatnya yang di ajak bermusyawarah.”

Wallahu a’lam.

Bunda Azzam
Latest posts by Bunda Azzam (see all)

Lets Share:

Leave a Reply

%d bloggers like this: