Melawan Takut … pada Cacing (???)

Ketika melakukan sesuatu yang ingin diakui sebagai hobi, tentunya saya ingin melakukannya dengan senang dan riang gembira. Tapi untuk hobi saya berkebun, saya tidak begitu saja bisa dengan riang gembira menjalaninya. Karena saya geli dan jijik dengan banyak hal yang ada di kebun.

Saya baru sadar bahwa saya tidak sendirian. Ketika bertukar cerita dengan teman-teman, banyak yang memilih untuk jauh-jauh dari kegiatan berkebun karena jijik dengan cacing. Ada juga yang memilih hidroponik karena tetap bisa menyalurkan hobi berkebun tanpa harus melihat cacing. Yah walaupun sebenarnya berkebun dengan hidroponik pun masih akan didatangi hewan menggelikan lainnya seperti ulat dan aneka kutu-kutuan, kecuali mungkin set hidroponikmu dibuat di dalam bangunan green house ya.

Sampai saya menuliskan tulisan ini, saya belum bisa menyebut saya sudah cukup tangguh berhadapan dengan aneka hewan kebun yang luc… eh menggelikan ini. Walau sudah bisa melihat mereka tapi saya masih belum bisa memegang hewan-hewan ini dengan tangan tanpa pelindung. Yeah sebenarnya walau pakai sarung tangan, saya tetap masih ogah memegang mereka ya.

Saya tahu berat sekali mengatasi rasa geli terhadap hewan-hewan ini. Dan berkebun artinya saya harus siap menghadapi mereka. Karena saya sudah memutuskan untuk berkebun dengan menggunakan media tanam tanah. Baik dalam pot maupun dalam raised beds di atas taman kecil saya di depan rumah.

Hujan deras akhir-akhir ini membuat saya tidak berani naik ke kebun balkon di lantai 2. Padahal awalnya saya sangat suka menikmati suasana hujan di kebun balkon, namun semua berubah ketika negara api menyerang … eh maksudnya ketika cacing sudah semakin banyak di dalam pot tanaman saya.

Hujan deras di kebun balkon berarti saya akan menyaksikan puluhan atau mungkin ratusan cacing-cacing bergerak pelan keluar dari dalam tanah di pot. Mereka secara bersama-sama keluar tidak hanya dari permukaan pot tapi juga dari lubang-lubang drainase pot. Cacing-cacing ini mungkin merasa kebanjiran di dalam pot dan segera berusaha menyelamatkan diri dengan mencari tempat yang lebih tinggi. Saya melihat cacing yang keluar dari segala arah itu berpindah dari satu tanaman ke tanaman lain dengan menyebrangi daun dan ranting tanaman yang saling bersentuhan. Satu menit, dua menit, tiga menit, seluruh rambut halus di lengan saya sudah berdiri meremang, omaigatt saya tidak sanggup lagi menyaksikan pertunjukan ini dan biasanya saya pun memilih pergi.

Seusai hujan, “kengerian” masih berlanjut karena tidak semua cacing beruntung bisa kembali masuk ke dalam habitatnya. Banyak cacing yang mungkin karena terlalu jauh berkelana akhirnya menemui ajalnya ketika hujan berhenti, matahari bersinar, air di lantai mulai mengering, dan mereka terperangkap di permukaan lantai sehingga tubuh mereka lengket dan mengering. Sungguh ini ujian tak terkira buat saya yang geli dan jijik dengan cacing tapi harus melihat hal seperti ini terjadi sepanjang musim hujan.

READ  Filosofi Cacing Seorang Lazy Gardener

Sampai pada suatu hari, ketika saya sedang menyemai tanaman baru, langit yang tadinya cerah mendadak gelap gulita, angin dingin bertiup kencang dan sebelum saya sadar tetiba hujan deras tumpah dari langit. Saya sebentar terkesiap dan bulu kuduk segera meremang menyadari apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi pekerjaan saya tanggung sekali dan saya berusaha secepat kilat menyelesaikannya. Namun secepat apapun saya bekerja, masih lebih cepat ternyata cacing-cacing itu beringsut keluar dari pot-potnya. Saya semakin bergegas sambil mata saya tetap mengawasi gerakan-gerakan cacing itu, kalau ada yang mendekat ke arah saya, artinya saya harus melarikan diri. Pengecut? Iya memang, hehehe.

Lima menit, 10 menit, ketika semaian saya akhirnya selesai, saya dengan sadar memperhatikan tidak ada seekor cacing pun yang bergerak ke arah saya. Padahal saya berada di lantai yang basah karena adanya percikan air hujan yang mengalir ke arah tempat saya bekerja. Lantai balkon itu dibuat dengan kemiringan tertentu sehingga bila area kebun balkon ada genangan air, maka air akan mengalir ke arah tempat saya bekerja sebab lubang drainase memang ditempatkan di dekat saya. Tapi sekali lagi cacing itu menghindari mendekati saya. Saya menduga hal itu terjadi karena cacing mengetahui kemiringan lantai tempat mereka merayap, dan merayap menjauhi saya adalah insting mereka untuk bergerak ke tempat yang lebih tinggi.

Tak lama saya melihat ada cacing yang cukup besar jatuh juga ke lantai. Bulu kuduk saya semakin meremang, tapi kali ini kaki saya tidak ingin beringsut dari tempat saya berdiri. Saya ingin tahu kemana cacing besar itu pergi. Sama seperti rekan-rekannya yang lain, cacing besar itu tidak mendekati saya. Ia tampaknya malah cukup tahu bahwa habitatnya ada di dalam pot yang terletak diatas dinding balkon. Cacing besar itu mencoba merayapi dinding dan mencapai kembali pot yang ada di atas. Ia sudah hampir sampai atas tembok, namun hujan sudah berhenti dan matahari segera muncul kembali. Dengan cepat dinding pun menjadi kering. Cacing besar itu terlihat mulai kesulitan merayap dan mulai lengket dengan dinding kering. Dan alih-alih mati lengket, ia memilih untuk berusaha melepaskan diri dari lengketan itu dan menjatuhkan dirinya lagi kembali ke lantai. Ia beringsut mencari area yang masih basah. Bulu roma di lengan saya masih berdiri, tapi saya penasaran dengan usaha cacing besar ini menyelamatkan diri. Apakah ia akan berhasil mencapai pot di atas?

READ  Filosofi Cacing Seorang Lazy Gardener

Saya mendekati cacing itu dan memperhatikan betapa kerasnya ia berusaha menyelamatkan diri. Matahari yang semakin terang mengeringkan dengan cepat lantai kebun balkon. Dan di lantai mulai berkeliaran semut-semut yang mencari mangsa cacing-cacing yang terperangkap di lantai kering. Beberapa cacing yang kecil sudah mulai terlihat diangkati oleh bangsa semut.

Cacing besar ini masih bergerak, dan ia menarik perhatian para semut yang mulai berkerumun menanti kematiannya. Si cacing masih terus beringsut tapi ia mulai kesulitan karena kemana pun ia bergerak pergi, lantai balkon yang miring itu mulai menunjukkan bahwa mereka memang sudah didesain untuk segera mengering ketika hujan berhenti. Semut-semut yang tadinya hanya mengelilingi si cacing mulai berani mengerubuti si cacing yang terlihat mulai lengket dengan lantai.

Saya seharusnya bisa pergi saja dan membiarkan hukum rimba bekerja. Si cacing sudah pasti tidak akan selamat di lantai yang kering dengan puluhan semut yang mulai mengerumuninya. Saya seharusnya pergi saja, toh saya jijik melihat cacing itu kan? Tapi nyatanya saya mulai iba pada si cacing yang mulai menggeliat meronta-ronta dikerubuti semut. Saya iba dan mata saya mulai mencari-cari sesuatu yang bisa saya gunakan untuk menolong cacing itu. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengangkat cacing itu dari lantai dengan sumpit bambu yang biasa yang gunakan untuk melubangi tanah untuk menanam benih. Setelah saya siram dahulu si cacing dengan air yang membuat semut-semut bergelimpangan, saya baru mengangkatnya dan meletakkannya di salah satu pot saya. Dan ketika melihat cacing itu bergerak cepat memasuki tanah, ada perasaan lega di hati saya.

Mungkin bukan lega karena saya berhasil menyelamatkan seekor cacing, saya yakin ia dan puluhan teman-temannya yang lain akan mengulagi hal yang sama lagi di masa hujan berikutnya dan bisa jadi kali itu tidak ada yang menyelamatkan mereka. Saya lega karena saya bisa mengatasi rasa jijik saya terhadap cacing. Walau saya masih memegangnya dengan sumpit, tapi itu sudah suatu keberanian luar biasa buat saya. Sebuah ketakutan berhasil diatasi. Alhamdulillah.

Dan kenapa juga saya harus berpanjang lebar menceritakan kisah penyelamatan seekor cacing di laman ini?

Saya percaya mereka yang membaca tulisan saya sampai ke bawah sini kemungkinan besar adalah mereka yang juga seperti saya, ingin berkebun tapi takut cacing dan takut dengan segala binatang kecil-kecil yang ada di dalam tanah. Sebagian mereka memilih untuk mengurungkan niat berkebunnya dan sebagian lagi mencoba menjalani pola berkebun hidroponik untuk menghindari apa yang ditakutkan.

READ  Filosofi Cacing Seorang Lazy Gardener

Berkebun untuk penakut cacing bukanlah hal yang mudah. Seperti iman, semangat untuk berkebun pun bisa naik turun. Ada kalanya ketika hewan kecil itu muncul terlalu banyak dari yang bisa saya saksikan, rasanya saya ingin berhenti saja dan menyingkirkan semua pot-pot yang sudah berisi aneka hewan-hewan kecil itu. Disitulah saya merasakan selemah-lemahnya kemauan untuk berkebun, dan ketika itu terjadi berhenti sejenak dari kegiatan berkebun adalah hal terbijaksana yang bisa dilakukan. Namun karena saya telah bergabung dengan banyak komunitas berkebun dan memiliki teman-teman yang terus sharing cerita tentang kebun dan kawan-kawan hijau mereka, semangat untuk kembali mengunjungi kebun kecil saya pun akan timbul.

Itulah pentingnya memiliki lingkungan yang mendukung. Tidak hanya berkebun, tapi juga lingkungan teman-teman yang baik, saling support dan menambah ilmu tentang apa saja yang ingin kita pelajari, akan sangat membantu kita untuk terus me-recharge semangat untuk terus maju dan tidak memilih memutar balik arah perjalanan. Tentunya sebuah perjalanan dengan tujuan yang baik. Sebaliknya teman-teman yang baik pun akan menghalangi kita meneruskan perjalanan dengan tujuan yang buruk.

Karena sekarang jamannya #PandemiCovid, temukan kawan-kawan berkebunmu di dunia maya. Mereka banyak sekali, mulai dari yang berkebun di balkon atau teras rumahnya, atau para petani millenial yang sudah kenyang asam garam dunia pertanian.

Jangan menghentikan niatmu untuk berkebun hanya karena rasa geli dan jijik pada cacing dan hewan kecil lainnya. Mereka ada karena memiliki tugas yang sangat mulia yaitu mengubah sampah organik menjadi sumber nutrisi bagi tanaman. Tanaman tidak hanya memberikan kita manusia sumber pangan, tapi juga tanaman mengurangi emisi gas karbon dengan menyerap gas carbon dari udara dan menyalurkannya ke akar untuk diubah lagi menjadi oksigen yang dihirup oleh manusia. Tanpa kehadiran hewan kecil menjijikkan itu, proses penguraian sampah organik dan penyuburan tanah akan terganggu.

Dengan kesadaran baru ini, tidak hanya kamu, tapi saya juga yang pasti terus berusaha agar terus berkebun.

Mari terus berkebun!

Latest posts by Ferona Yulia (see all)

Leave a Reply