Nabi Yusuf & Kesabaran Yang Indah

Lets Share:

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Ya’kub berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku) dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan. (Yusuf :18)

Kisah Nabi Yusuf as adalah salah satu kisah terbaik. Hal ini dinyatakan dalam permulaan surah ini, Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan  Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Yusuf :3)

Kenapa Al-Qur’an mengatakan kisah Nabi Yusuf as adalah salah satu kisah terbaik? Karena surah ini mengandung beberapa hikmah besar dan salah satu diantaranya adalah perkataan Nabi Ya’kub dalam surah ini: Fa shabrun jamil, ‘Kesabaran yang indah atau kesabaran yang baik.’

Dalam sebuah sumber, masa Nabi Yusuf as ini dikatakan sekitar 1700 SM atau kurang lebih 4000 tahun lalu. Ketika surah ini turun, menurut Al Baihaqi dalam Kitab Ad-Dalail, sejumlah orang dari Kaum Yahudi masuk agama Islam sesudah mendengar kisah Nabi Yusuf as ini, dikarenakan kisahnya sesuai dengan kisah yang mereka ketahui.

Kisah ini dimulai ketika Nabi Yusuf as mendapat mimpi; melihat sebelas bintang, bulan, dan matahari bersujud kepadanya. Wahai Ayahku! Sesungguhnya saya bermimpi melihat sebelas bintang dan matahari dan rembulan. Saya melihat semuanya sujud kepada saya.” (Yusuf :4).

Mimpi yang aneh dan luar biasa itu Yusuf ceritakan kepada ayahnya, Nabi Yakub as. Atas pemahaman tabir mimpi yang dimilikinya, Nabi Yakub as melarang Yusuf untuk menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya. Dalam riwayat, dikatakan Nabi Yusuf as bersaudara 11 orang dan beliau adalah anak ketujuh.

Kenapa Nabi Yakub as melarang Yusuf menceritakan mimpinya? Karena beliau khawatir saudara-saudara Nabi Yusuf as akan membuat makar (ketika mendengar mimpi itu) karena iri hati. Sebab Nabi Yakub as mengetahui tabir mimpi itu; diangkatnya Yusuf remaja kelak untuk menjadi salah satu Nabi Allah.

READ  Every Bad Act Deserves Another

Menarik bagi kita merenungi akhir kata Nabi Yakub as ketika melarang Nabi Yusuf as bercerita, “Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka (akan) membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. (Yusuf :15)

Atas hikmah yang Allah berikan, Nabi Yakub as mengetahui anak-anaknya yang lain akan merasa iri. Rasa iri yang sebenarnya sudah memiliki akar yang lain; adanya perasaan Nabi Yusuf as lebih disayang oleh ayah mereka. Mereka lupa Nabi Yusuf as dan saudara kandungnya, Bunyamin, telah kehilangan ibu kandung mereka, Rahil. Riwayat lain juga menyebutkan sejak kecil Nabi Yusuf as adalah sosok anak yang patuh dan taat kepada ayahnya dan memiliki karunia lain yang luar biasa; wajah yang sangat rupawan dan fisik yang tegap menawan.

Semua rasa iri itu pada akhirnya berbuah makar, tetapi menarik kita lihat bagaimana Nabi Yakub as menutup perkataannya dengan pesan..Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Hal ini adalah sebuah pernyataan bahwa kekhilafan, kemaksiatan dan bahkan dalam kasus Nabi Yusuf as ini, kekejaman yang datang dari saudara-saudaranya sendiri adalah akibat dari manusia terpedaya hasutan setan.

Perjalanan waktu membuktikan kekhawatiran Nabi Yakub as; saudara-saudara Nabi Yusuf as membuat makar dengan rencana awal membunuh Nabi Yusuf as. Namun saat musyawarah, mereka akhirnya memutuskan tidak jadi membunuh Yusuf, melainkan hanya membuangnya dengan memasukkannya ke dalam sumur agar kelak Yusuf bisa diambil oleh musafir.

Dan terjadilah makar tersebut di saat usia Nabi Yusuf as 12 tahun.

Saudara-saudara Nabi Yusuf as membuang Yusuf ke dalam sumur (setelah sebelumnya berjanji kepada Nabi Yakub as untuk menjaga Yusuf baik-baik saat bermain dan bersenang-senang di hutan). Bahkan sebagaimana ayat di awal tulisan,  saat pulang mereka menangis (berpura-pura) sedih dengan mengatakan Yusuf telah mati karena dimakan srigala. Dan meski Nabi Yakub as mengetahui kebohongan dan kekejaman anak-anaknya, tetapi karena tidak punya bukti yang nyata, kecuali hanya bashirah (firasat yang dimiliki hamba Allah yang shaleh) Nabi Yakub as memilih bersabar dan hanya mengatakan.. fa shabrun jamil..

Sayyid Quthb dalam kitab tafsirnya, Fi Zhilalil Qur’an, menafsirkan Shabrun Jamiil (Kesabaran yang Indah) sebagai kesabaran yang menenangkan, yang tidak disertai kemarahan, kegoncangan, dan keraguan terhadap kebenaran janji Allah. Kesabaran orang yang percaya kepada akibat yang bakal terjadi, yang ridha kepada kadar Allah, yang merasakan hikmah di balik ujian-Nya, selalu berhubungan dengan-Nya, dan mengharapkan pahala dari sisi-Nya pada setiap apa yang menimpa dirinya.

Namun, sisi manusiawi Nabi Yaqub as tetaplah ada. Perpisahan Nabi Yakub as dengan Nabi Yusuf as tanpa tahu kabar berita dan keadaannya membuat Nabi Yakub as berduka dalam. Sebuah riwayat mengatakan Nabi Yakub as sampai menjadi putih matanya (buta) karena terlalu sering menangis.

READ  Don't Give Up So Easy

Dan ujian Nabi Yakub as ternyata tidak berhenti sampai disana, sebab 40 tahun kemudian (terhitung sejak masa perpisahan dengan Nabi Yusuf as) Nabi Yakub as kembali kehilangan anaknya, Bunyamin.

Bunyamin sebenarnya segaja “ditahan” oleh Nabi Yusuf as, yang atas nikmat Allah telah menjadi Penguasa Mesir. Saudara-saudara Nabi Yusuf as saat itu datang kepadanya untuk meminta bantuan bahan pangan karena musim kemarau yang melanda, tanpa mereka menyadari penguasa yang mereka datangi adalah adik mereka yang mereka buang 40 tahun yang lalu. Nabi Yusuf as (yang dengan segera mengenali saudara-saudaranya) lalu sengaja menahan adik kandungnya, Bunyamin, agar dapat berjumpa dengan ayahnya, Nabi Yakub as.

Sungguh luar biasa perkataan Nabi Yakub as ketika mendapat kabar kehilangan Bunyamin, beliau kembali mengulang perkataannya 40 tahun yang lalu.

Ya’kub berkata, “Hanya  dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana  (Yusuf : 83)

Bahkan dalam kondisi sangat berduka sekalipun, Nabi Yakub as tetap menahan amarahnya…dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya) (Yusuf : 84) dan betapa indahnya munajat Nabi Yakub as; Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Yusuf : 86)

Kesabaran indah Nabi Yakub as juga tergambar dari harapannya yang tidak pernah putus; Hai Anaku-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesuungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir (Yusuf : 87)

READ  Don't Give Up So Easy

Kesabaran Nabi Yakub as akhirnya berbuah sangat manis; pertemuannya dengan anak yang telah dirindukannya selama 40 tahun; Nabi Yusuf as dalam keadaan sehat, makmur, dan berkumpulnya kembali seluruh anak-anaknya dalam keadaan saling menyayangi, karena Nabi Yusuf as dengan seluruh kebesaran jiwanya telah memaafkan semua kekejaman saudaranya di masa lalu.

Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf: “Wahai Ayahku inilah tabir mimpiku yang dulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Yusuf : 100)

Published on Buletin Mimbar Jumat, DAI. Oktober 2011

Ditulis kembali dengan beberapa pengembangan.

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Lets Share:

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *