Kekerasan Sesama Anak Kecil; Duka Di Atas Duka

Kasus meninggalnya Wahyudin, anak berumur lima tahun di Tegal, Jawa Tengah, setelah dikeroyok teman bermainnya (sebuah sumber menyebutkan empat orang) membuat kita sangat berduka. Hasil sementara pemeriksaan medis mengatakan Wahyudin tewas akibat menderita luka di sekujur tubuh. Namun, Kasat Reskrim Polres Tegal, AKP Rudi Wihartana mengatakan polisi yang melakukan identifikasi tidak menemukan luka-luka lebam di tubuh Wahyudin. Polisi menganjurkan agar kasus ini diselesaikan kekeluargaan, karena teman-temen sepermainan yang diduga melakukan pengeroyokan semuanya masih berusia balita.

Terlepas kasus ini belum mempunyai kejelasan apa penyebab kematian Wahyudin,  tetapi karena mengandung muatan masalah pengeroyokan yang dilakukan sesama anak kecil (balita bahkan) jelas membuat kita mawas diri. Kasus lain yang baru mencuat juga adanya dugaan Anak SD yang meracuni temannya. Pertanyaannya adalah sudah demikian parahkah akhlak anak-anak kita? Sudah demikian burukkah mental mereka, sehingga dalam usia yang sangat dinipun, mereka telah mengenal kekerasan?

Para pakar pendidikan jelas harus bisa menguraikan analisanya, para pakar psikologipun begitu, demikian juga bidang ilmu lain. Karena memang jiwa manusia bisa dilihat dan dididik dari berbagai aspek.

Salah satu wacana yang mengemuka saat ini adalah kasus ini akibat imbas peran media, khususnya komik dan kartun yang sangat mengkhawatirkan. Kita tentu masih ingat bagaimana tayangan smackdown diprotes karena terindikasi membawa pengaruh buruk bagi anak-anak, meski catatannya adalah tayangan ini telah mencantumkan peringatan bahwa tayangan ini tidak diperuntukkan bagi anak-anak dan dengan jam tanyang di atas jam 9 malam. Bahkan, tayangan kartun yang seakan lucu sekalipun, seperti Happy Tree Family sesungguhnya mengandung tingkat sadisme yang begitu tinggi dan hal tersebut dikosumsi anak kita sehari-hari.

READ  Every Bad Act Deserves Another

Kita sungguh merindukan anak-anak yang santun dan tegar, tetapi tentu bukan anak-anak yang kasar lagi keras hatinya. Meski tentu saja, anak-anak tersebut bisa jadi hanyalah korban dari keadaan; korban dari orang tua yang lalai, korban dari lingkungan, korban dari media. Duka kita ada bukan hanya untuk Wahyudin yang telah berpulang, tetapi juga untuk anak-anak teman sepermainannya, yang katanya hanya (awalnya) mempraktekkan pencak silat, sebab di atas duka kita kehilangan seorang anak, duka itu bertambah perih dengan adanya ada empat orang anak lain (dan entah berapa banyak lagi kasus serupa bak gunung es dalam hal ini) yang harus kita selamatkan jiwanya agar mereka kembali kepada fitrahnya.

Published  on Fokus Buletin Mimbar Jumat, DAI

Jakarta, 18 Mei 2011

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply