Antara Jabatan dan Koreksi

Sejak era reformasi, dimana keterbukaan media dan informasi menjadi lazim, kita sering mendapati berita aksi sekelompok masyarakat yang menuntut turunnya seorang pejabat, baik di tingkat pusat maupun tingkat daerah, dan wacana terhangat saat ini adalah jabatan Nurdin Halid sebagai Ketua PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) yang dinilai tidak kompeten.

Jika aksi itu membawa bukti nyata dan dapat di proses hukum, maka itu menunjukkan “kesehatan” ammar ma’ruf nahi munkar negara tercinta ini. Atau dalam bahasa demokrasi, pemerintahan bersih dan berwibawa bisa terwujud ketika ada koreksi sehat sebagai penyeimbang, baik itu datang dari “lawan” politik, dari dalam internal organisasi pemerintahan, maupun dari rakyat biasa. Koreksi-koreksi yang datang tidak selalu harus dipandang sebagai sebuah “ancaman” bagi sebuah jabatan.

Kita bisa mengambil pelajaran dari negarawan besar, Khalifah Pertama Abu Bakar ra, yang berkata dalam pidato pertamanya: “Para hadirin, aku terpilih sebagai pemimpin kalian, tetapi aku bukanlah yang terbaik.

Jika aku berbuat kebaikan, bantulah aku, dan jika aku keliru, luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah, sedang dusta adalah khianat. Orang lemah di antara kalian akan kuat di sisiku, sampai aku mengembalikan haknya dan orang kuat di antara kalian akan lemah di sisiku, sampai aku akan mengambil kekuatan darinya.

Tidaklah satu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, kecuali Allah akan timpakan mereka kehinaan dan tidaklah perbuatan keji ada (dibiarkan-red) di satu kaum, kecuali adzab akan ditimpakan pada kaum tersebut. Patuhilah aku, selama aku mematuhi Allah dan Rasul-Nya. Tetapi, jika aku tidak mematuhi keduanya, maka tidak ada kewajiban kalian untuk taat terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat. Semoga Allah merahmati kalian.

READ  Drama Penyanderaan Anak Buah Kapal

Published on Fokus Buletin Mimbar Jumat, DAI

Jakarta 23 02 2011

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: