Hari Literasi Nasional 8 September: Masuk Surga Dengan Mengajar Membaca

Lets Share:

Salah satu hal yang sangat penting dalam proses awal pendidikan seseorang adalah memiliki kemampuan untuk membaca atau dalam bahasa sederhana kita mengenal istilah melek huruf. Kemampuan bisa membaca ini menjadi modal dasar seseorang untuk mengembangkan kemampuan lainnya seperti menulis.  Dua kemampuan ini, membaca dan menulis, merupakan dua kemampuan yang sangat penting yang harus dimiliki seseorang dalam kehidupannya.

Pada usia dini, bisa membaca bagi seorang Anak merupakan sebuah proses pembelajaran yang cukup rumit. Kemampuan cepat atau lambatnya seorang Anak untuk bisa membaca berbeda-beda. Itulah mengapa kita melihat ada berbagai metode cara belajar membaca. Penulis merangkum setidaknya ada 5 metode; Metode Abjad, Metode Eja atau Metode Bunyi (Spelling Method), Metode Suku Kata (Syllabic Method), Metode SAS (Structural, Analytic, Syntatic) dan Metode 4 Tahap Steinberg (Four Step Steinberg Method)

Guru Besar Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Edwita, M.Pd mengatakan kemampuan anak yang berbeda-beda ini harus disikapi dengan bijak oleh seorang Guru. Guru yang sabar dan baik akan menyikapi perbedaaan kemampuan Anak ini dengan menerapkan berbagai metode cara membaca kepada Anak didiknya dan tidak hanya terpaku dengan satu metode saja. Karena bisa jadi, satu metode tepat dan berhasil untuk seorang Anak, namun tidak berhasil untuk Anak lainnya.

BACA:  Saat Hidup Semakin Keras, Hati Harus Semakin Lembut

Beliau mengatakan pihak Sekolah Dasar (SD) tidak boleh menolak seorang Anak yang belum bisa baca tulis dan merupakan kewajiban mulia bagi seorang Guru (khususnya baik bagi Guru PAUD, TK dan SD) untuk membimbing Anak didiknya bisa membaca dan menulis. Dengan tegas, beliau memberikan motivasi “Guru yang mengajarkan Anak didiknya membaca dan menulis akan sampai ke pintu surga,

Prof. Dr Edwita, M.PD juga mengatakan Guru yang cerdas akan memakai berbagai macam pendekatan untuk bisa mengajarkan Anak didiknya membaca dan itu artinya tidak hanya menerapkan 1 metode, namun juga berbagai metode sesuai dengan kebutuhan Anak (customized).

Beliau melarang Anak yang tidak bisa membaca dipisahkan duduknya dari Anak yang sudah bisa membaca. Hal ini karena seorang Anak bisa jadi lebih cepat bisa membaca saat dia berada dalam lingkungan teman-temannya yang sudah bisa membaca dan termotivasi, dibandingkan jika dia dipisahkan dan ada kemungkinan Anak tersebut juga akan merasa tidak percaya diri.

Guru Besar UNJ yang telah mengajar selama 42 tahun ini menyampaikan hal tersebut dalam acara Launching Share Edu Indonesia dan Lokakarya Nasional di Gedung Musium Kebangkitan Nasional (STOVIA) 6 Agustus 2022. Acara ini dihadiri sekitar 150 Peserta Anggota Share Edu yang merupakan Praktisi Pendidikan, baik Guru, Dosen, maupun Para Pemilik Sekolah dan Para Pemangku Kebijakan dari Yayasan Pendidikan dari seluruh wilayah Indonesia

BACA:  My Dad, My Hero

Saat kita berbicara tentang kemampuan membaca, tentu kita akan berkolerasi dengan kemampuan kita dalam literasi dan hari ini tanggal 8 September adalah Hari Literasi Internasional (International Literacy Day) atau Hari Aksara Internasional. UNESCO telah memperingati ILD ini sejak tahun 1967. Tema hari Literasi tahun 2022 ini adalah “Transforming Literacy Learning Spaces” (Transformasi Ruang Belajar Literasi).

Terkait dengan literasi ini, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, merilis persentase dan jumlah penduduk buta aksara di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 1,71 persen atau 2.961.060 orang dari total jumlah penduduk. Hal ini merupakan Pekerjaan Rumah yang harus kita selesaikan dengan bahu-membahu.

Di sisi lain, kita patut bersyukur karena dengan adanya kebijakan SD Inpres yang dilakukan oleh Presiden Soeharto dulu, mayoritas masyarakat Indonesia telah bebas dari buta huruf. Berdasarkan data BPS tahun 2020 tersebut, kita bisa mengatakan 98 % Penduduk Indonesia telah bisa membaca. Hal ini merupakan modal besar bagi Pendidikan Indonesia untuk terus mengawalnya menjadi 100 %.

Secara global, data menunjukkan setidaknya ada sekitar 771 juta orang di seluruh dunia yang masih belum bebas buta huruf dan disinyalir ada sekitar 60 juta Anak diseluruh dunia yang tidak bisa mendapatkan pendidikan formal. Masa pandemik yang baru kita lalui juga membawa konsekuensi dimana disinyalir ada puluhan juta pelajar yang putus sekolah di seluruh dunia dan mayoritasnya adalah kaum Perempuan dan Anak-anak.

BACA:  Antara Jabatan dan Koreksi

UNESCO mengatakan tantangan kita ke depan adalah menciptakan ruang belajar literasi yang nyaman dan membangun pendidikan yang berkualitas, adil dan inklusif untuk semua.

Indonesia sebagai salah satu negara besar, baik dari segi SDA (Sumber Daya Alam) dan SDM (Sumber daya Manusia), harus mampu menjawab tantangan tersebut dan menjadi salah salah satu pionir dan pemimpin bidang pendidikan di kancah dunia dan kita pasti bisa. Sebagaimana perkataan heroik KH. Dewantoro “Jadikan setiap Tempat sebagai Sekolah, Jadikan setiap Orang sebagai Guru.


Lets Share:

Leave a Reply