Filosofi Cacing Seorang Lazy Gardener

Hobi saya bikin kue. Tapi sekarang saya nambah hobi baru yaitu berkebun. Berkebun dan bikin kue itu sesuatu yang berbeda, tapi dua-duanya sama-sama bikin relaks dan bahagia.

Bener?

Kalau bikin kue yang gak bikin saya bahagia itu kalau mesti cuci-cuci dan beres-beres peralatan baking. Kalau berkebun, yang gak bikin saya bahagia itu kalau ketemu cacing dan luwing.

What?

Iya. Saya sejujurnya geli banget lihat dua hewan itu. Tapi saya suka berkebun. Saya suka proses berkebun yang sloowwllyyy banget dibandingkan bikin kue. Yaeyalah, bikin kue cemplang cemplung, kocok aduk, panggang, sejam dua jam kue enak siap disantap. Nanam sawi? Paling cepat 30 hari baru bisa panen. Kalau mau dipercepat dengan hidroponik, … Yah tetap aja dua jam gak bisa siap disantap kan?

Saya punya set hidroponik. Bak sederhana untuk metode wick dan satu vertical paralon dengan pompanya untuk metode NFT ala-ala. Dan saya suka berkebun ala hidroponik karena bersih, rapi dan no cacing en luwing, sodara-sodara.

Tapi tanaman yang bisa ditanam ala hidroponik kan masih terbatas jenisnya. Saya ingin bertanam tabulampot juga soalnya. Tabulampot itu tanaman buah dalam pot. Ya mesti pakai pot diameter 50cm dan diisi dengan tanah, sekam bakar, kompos dan pupuk kandang. Duh tanah? Bakal ketemu lagi sama hewan kecil yang selalu bikin saya geliiii …

Saya pun dengan sigap membeli media tanam siap pakai, yang saat baru dibuka kemasannya sih gak ada cacingnya. Jadi aman dong mestinya gak ada cacing. Gitu kan?

Sebulan dua bulan berlalu, ada tanaman dalam pot yang gagal tumbuh dan saya mau ganti dengan tanaman lain. Saya keluarkan tanamannya dari pot, dan ternyata ada cacing dong di dalam pot tersebut. Gak cuma satu cacing, tapi banyak cacing. Saya ogah ngitunginnya. Darimana cacing itu berasal? Wallahualam. Entahlah,tapi saya duga dari media tanam siap beli, karena potnya saya letakkan di atas lantai keramik di lantai dua. Gak mungkin kan cacing naik dari tanah taman di bawah lewat talang air trus masuk ke dalam pot?

READ  Drama Penyanderaan Anak Buah Kapal

Saya pun mutung gak mau lanjut berkebun pake tanah. Saya hanya teruskan berkebun hidroponik sambil terngiang-ngiang lagi ujaran bu Bertha Suranto sewaktu saya mengikuti pelatihan hidroponik bersama beliau, “Saya suka berkebun hidroponik karena gak ketemu cacing.” Tak terasa kepala saya mengangguk -angguk, “Setuju bu, saya juga mau hidroponikan aja deh, karena saya gak sanggup ketemu cacing!”.

Tabulampot saya pun tidak lagi dirawat secara berapi-api. Paling hanya disiram air dan tambah kompos kapan ingat kapan sempat.

Sampai pada suatu hari saya iseng mengikuti kulwap dengan materi menggunakan sampah organik dapur sebagai media tanam dengan mba Putri selaku fasilitator. Lihat video di bawah ini untuk memahami bagaimana prosesnya.

Dari video di atas terlihat bahwa sampah segar dari dapur itu bisa langsung diolah jadi media tanam tanpa harus dikomposkan terlebih dahulu. LANGSUNG PAKAI, gimana gak keren banget buat saya yang pemalas ini. Selama ini saya tahunya sampah dapur organik itu mesti dikomposkan dulu dalam komposter kalau mau dipakai sebagai media tanam. Kalau langsung diaduk seperti itu dalam pot, bisa tewas tanaman karena proses penguraian sampah organik menghasilkan panas. Saya sudah pernah coba pegang tumpukan sampah kompos saya di dalam komposter memang terasa hangat. Ternyata dengan tambahan semprotan Bio Compund, proses penguraian sampah-sampah tersebut bisa berlangsung tanpa menimbulkan panas yang bisa menewaskan tanaman.

Dari materi kulwap mengelola sampah dapur jadi media tanam, saya pun perlahan belajar metode kelola sampah organik lainnya. Dari Youtube dan aneka akun Media Sosial lainnya yang memang fokus pada pengelolaan sampah organik dan berkebun organik.

Saya mulai mencoba memahami bahwa hewan kecil yang saya takuti itu adalah makhluk mulia yang bertugas memakan sampah organik dan memberikan output berupa kotoran cacing yang merupakan pupuk super untuk menyuburkan tanaman. Tidak hanya cacing, di dalam tanah yang subur terdapat banyak organisme-organisme kecil lainnya seperti bakteri-bakteri yang sangat berperan dalam menguraikan semua sampah organik itu menjadi lapisan tanah humus yang sangat subur. Semua yang saya takuti di bawah tanah itu adalah makhluk hidup yang diciptakan Allah untuk melakukan proses penguraian sampah organik menjadi lapisan tanah subur tempat tumbuh tanaman yang akan menjadi sumber kehidupan makhluk lainnya.

READ  Melawan Takut ... pada Cacing (???)

Bahwa siklus kehidupan di alam ini, tanpa campur tangan manusia sesungguhnya adalah sebuah lingkaran proses yang tidak akan menyisakan sampah tergeletak menumpuk dengan bau yang menyengat. Sebuah proses yang teramat sangat harmonis dan sangat teliti di setiap bagiannya membuat kehidupan berlangsung terus tanpa ada yang dirusak atau pun dirugikan.

Manusia-lah yang menyebabkan alam ini tetiba kehilangan kemampuannya menyelesaikan masalahnya. Saya teringat surat Ar-Rum:41 yang artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).

Manusia yang merusak, dan hanya manusia-lah yang bisa memperbaiki apa yang sudah mereka rusak di alam ini. Dengan harapan agar saya tidak menjadi bagian dari manusia yang hanya bisa merusak, saya mencoba mengubah cara pandang saya terhadap cacing.

Tidak mudah, tapi paling tidak saya terus berusaha dan mulai turun lagi berkebun dengan tanah. Yeah paling tidak saya sudah bisa membongkar pot dan membiarkan cacing bergerak masuk lagi ke dalam tanah tanpa harus beringsut pergi atau berteriak-teriak heboh, hehehe. Norak ya saya? Begitulah.

Saya yang terkenal dengan kehebohan saya kalau ketemu cacing, membuat tak urung keluarga berkomentar melihat saya berkebun dengan cara organik, “Gak takut cacing lagi ya?”

Saya cuma senyum. Ini semua saya lakukan demi bumi yang lebih baik. Karena bila hanya untuk bisa makan sayur, itu Mas Narto Kang Sayur langganan saya siap sedia selalu bawa sayur segar. Tapi jelas ini untuk sesuatu yang lebih besar ketimbang hanya untuk menikmati sayuran segar. Saya ingin jadi bagian orang yang memperbaiki kerusakan di muka bumi, saya ingin memberi kepada bumi. Bukan hanya menjadi bagian orang yang merusak dan hanya bisa mengambil semua yang disediakan bumi tanpa mau menjaga kebaikannya.

READ  Sedekah dan Keberkahan Doa

Saya masih belajar.

Yang jelas #sayapilihbumi.

Latest posts by Ferona Yulia (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: