Don’t Give Up So Easy

Sabtu, 8 Januari 2011, saya berkesempatan menggantikan guru kelas mengisi pendalaman materi untuk kelas IX. Saya di telp jam 6.30 am, dan meski sedang sakit kepala dan tidak fit, saya tetap berkata iya untuk mengisi dua kelas, dari jam 9.30-12.30 am. Hal ini karena sejak lama saya berprinsip tidak menolak tawaran apapun—yang berkaitan dengan ilmu dan perkerjaan, karena bagi saya, dalam sebuah tantangan, ada kesempatan bagi kita mengekslorasi kemampuan dan sekaligus menguji mentalitas kita. Melakukan yang terbaik dan setelah itu, biarlah orang menilai. Amal sholeh kita untuk Allah dan Allah juga yang telah memberikan kesempatan-kesempatan itu bagi kita, kita hanya perlu mengisinya sebaik mungkin, agar menjadi ihsanul amal (amal yang terbaik).

Kelas pertama yang saya masuki berjumlah sekitar 18 orang (yang asalnya berbeda-beda kelas) dan isinya laki2 semua. Anak2 ini belajar dengan baik. Saya pribadi lebih menyukai kelas yang homogen begini, karena berdasarkan pengalaman, ketika ada murid laki-laki dan perempuan, secara fitrah, ada saja gesekan-gesekan. Entah saling ledek, entah saling menggoda. Aktivitas itu biasanya menghabiskan waktu lebih dari 5 menit.

Anak-anak belajar dengan kalem, hanya memang, entah karena weekend, semangat mereka berkurang dan cenderung santai. Saya memaklumi, memang beban materi yang berat membuat anak-anak harus menjalani pendalaman materi. Kalau sudah begini, ketika bertemu soal susah, mereka gampang menyerah dan menyerahkan pada gurunya apa jawabannya. Tidak peduli bagaimana guru meng-create sebuah stimulus dan tantangan, anak-anak biasanya menampilkan wajah lugu dan pasrah yang menyatakan ”kita betul betul tidak tahu Ibu”.

Jam 11 am, saya memasuki kelas kedua. Sesaat sebelum masuk, guru lain, koordinator di tampat saya berkata, “bu Ika, ini anak-anak kelas unggulan”. Saya menganguk saja, meski dalam hati saya berkata, “unggulan? oh ok, we’ll see about that”.

Kelas ini terdiri dari lebih dari 20 orang anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Belakangan saya baru tahu, kalau ada kelas unggulan lain, yang di dalamnya banyak anak perempuannya.

Setelah mengucap salam dan memperkenalkan diri, saya memberikan aturan main dalam kelas saya.
“Kita belajar dengan tenang ya anak-anak, kalau ada yang mengantuk, boleh cuci muka atau tidur. Tidak apa-apa. Mau belajar atau tidak, itu hak kalian. Karena kalian yang akan mendapatkan ilmunya, bukan Ibu, tapi jangan ribut. Kalau ada yang ribut, Ibu keluarkan. Karena itu artinya kalian mengganggu ketenangan teman kalian yang mau belajar dengan serius. Are we clear?” Mereka menganguk dan cengar-cengir. Jarang-jarang ada guru yang mengijinkan tidur di kelas, mungkin begitu pikir mereka.

READ  Kekerasan Sesama Anak Kecil; Duka Di Atas Duka

Mungkin ada guru lain yang protes dengan metode saya ini. It’s ok. Saya melakukan ini bertahun-tahun sebelumnya. Saya terinspirasi ketika mendengar kisah salah satu dosen saya, dalam sebuah workshop tahun 2006. Pak Andreas Harsono bercerita metode yang profesornya terapkan di salah satu kelas di Universitas Harvard. Beliau mengatakan di ruang kelasnya (Kelas Jurnalisme), dalam sesi belajar mereka, para mahasiswa bisa duduk di lantai, di karpet, sambil minum kopi, teh, dan berpakaian santai. Apa saja boleh, asal tugas dari sang dosen dikerjakan dan mereka berdiskusi dengan serius tapi santai. Saya cukup takjub mendengarnya, karena bukan seperti itu suasana yang saya hadapi ketika saya berhadapan dengan para profesor saya.

Inspirasi yang kedua saya dapatkan ketika saya membaca Totto-chan, tahun 2008. Bagi saya, ini adalah salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Lugas, penuh makna, dan mengharukan. Buku ini bahkan di sebutkan sudah menjadi materi pengajaran wajib di Jepang sehingga tak heran jika pada saat ini kita melihat betapa pesatnya pendidikan di Jepang yang tidak hanya mengasah aspek IQ namun juga EQ dan moralitas. (Sylvietanaga, book review)

Buku ini membuat saya lebih bijak menangani anak-anak, khususnya anak usia sekolah dasar. Itu makanya saya membiarkan salah satu murid privat saya, 9 tahun, tiduran di lantai, sambil belajar dengan saya. Saya membiarkan dia mengambil posisi duduk bagaimanapun, asal dia enjoy. Syarat saya hanya dia tidak boleh kotor bajunya, yang artinya kalau dia habis main, dia harus ganti baju dulu. Murid privat saya ini, yang bersekolah di al Azhar, merupakan salah satu murid terpintar saya, dengan rata-rata nilai 8 dan 9. Saya mencoba menerapkan metode ini pada dia and it works.

Kembali ke kelas.

Anak-anak mulai belajar. Dengan tenang dan tekun, mereka menyimak soal-soal dan menjawab. Saya hanya meng-guide. Di kelas ini terlihat memang mulai perbedaannya dengan kelas sebelumnya. Tidak ada soal yang tidak bisa mereka jawab, kecuali hanya beberapa dan itu pun bukannya tidak bisa, tapi mereka bingung. Yang menarik, ketika giliran seseorang, murid ini tidur. Teman sebangkunya menyenggol dengan keras, dia terbangun dan menjawab soal, dan jawabannya benar. Bravo! Tidur aja dia bisa menjawab dengan benar. Saya menyimpan senyum di dalam hati.

READ  Every Bad Act Deserves Another

Yang lucu, ketika putaran ke dua, anak itu tetap tidur. Dibangunkan juga tidak mau, teman sebangkunya menatap saya dengan pasrah. It’s ok, next, saya bilang. Dalam hati saya tertawa terbahak-bahak. Setelah 4 tahun menerapkan aturan main saya, saya akhirnya “kena batunya”, ada murid yang berani memilh tidur di kelas.

Detik terakhir di kelas, anak-anak bertemu soal yang sulit. Sebagai perbandingan, di kelas sebelumnya anak-anak hanya mampu menjawab 35 soal, tapi di kelas ini anak-anak mampu menjawab 48 soal. Di soal ke 48 ini, mereka stuck.

Kebetulan murid yang harus menjawab adalah murid perempuan, dan yang sangat menyenangkan bagi saya adalah dia memiliki spell yang sangat bagus. Tapi dia menjawab dengan tidak yakin. Saya harus akui ini soal yang susah; arrange this sentences to become a story.

I’m not sure Miss, it’s difficult. I’m confused, she complained.

Kelas mulai ribut karena sudah waktu pulang. Anak-anak hampir tidak peduli kalau soal ini tidak di jawab. Akhirnya saya tantang mereka dengan memancing ego mereka, well, tidak ada yang mau menjawab? Tadi sebelum Ibu masuk ke kelas, Ibu di beri tahu kalau kelas ini…..kelas apa?

Kelas unggulan, hanya satu orang yang menjawab (Bingo!)

Nah, tidak ada yang mau menjawab? Kelas unggulan ini loh…

Anak-anak langsung ribut…Dia aja yang jawab Bu, kan dia yang bilang ini kelas unggulan (hahaha! Hebat juga, anak-anak lain sama sekali tidak terpancing. Bahkan sangking kesalnya, salah seorang di antara mereka ada yang memukul bahu temannya itu).

Saya masih diam saja, dan berkata lagi, Masa tidak ada satu pun yang mau menjawab? Satu orang menjawab, tetap salah dan yang paling penting buat saya, dia terlihat tidak yakin juga. Sesaat setelah itu, bel pulang berdering.

Anak-anak langsung siap-siap pulang..cuek sama satu soal terakhir yang susah dan tidak mau tahu lagi. Well well…wrong guess boys!

READ  Nabi Yusuf & Kesabaran Yang Indah

Dengan suara lantang, saya bicara…Ibu tidak akan mengakhiri kelas ini, sampai ada salah satu di antara kalian yang mau menjawab soal ini dengan yakin!

Hening beberapa detik. Setelah itu, semua menunduk, tekun kembali dengan soal mereka. Sebagian garuk-garuk, sebagian manyun, sebagian pura-pura baca, padahal nyegar-nyengir, tetapi sebagian besar dari mereka betul-betul berkerut dan fokus, meski teman-teman mereka sudah teriak teriak di luar kelas. Tapi TIDAK ADA SATU pun yang MENGELUH atau PROTES. It’s amazing. I’m grateful and also appreciate it.

Inilah yang menurut saya membedakan mereka, anak-anak kelas ini, dari kelas yang lain. Mereka tidak hanya memiliki IQ yang mungkin di atas rata-rata, (kenapa saya bilang mungkin, karena nilai IQ bisa di ukur secara akurat dan kita tahu, kemampuan IQ bisa diupgrade dengan kerja keras dan latihan), tetapi yang paling penting adalah mental dan attitude mereka. Mereka mau menjawab tantangan dan sabar dalam proses, tidak menyerah dengan mudah atas sebuah kesulitan.

Stimulus untuk tidak menyerah ini juga ada karena mereka berada dalam sebuah lingkungan yang mendukung. Ketika teman teman mereka tidak menyerah, aura perjuangan itu menyebar juga ke anak-anak lain. Hal ini berarti, adagium lingkungan turut berperan memang sebuah aksioma.

Tidak berapa lama, beberapa orang mengacungkan tangan. Termasuk gadis yang tadi harus menjawab, Miss, let me answer it, give me a chance once more.

Ok, go ahead.

Dan dia menjawab dengan yakin sekaligus benar kali ini, meski dengan kening yang berkerut karena cemas salah.

Bravo! Good job!

Saya menutup kelas dengan perasaan bahagia sekaligus bersyukur atas hikmah yang saya terima dari anak-anak ini. Oya, anak yang tadi tidur, tetap tidur tuh, detik terakhir dia buka mata ketika mendengar bel, lalu dia melihat teman-temannya sibuk dengan satu soal itu, dan dia memilih tidur lagi. Hahaha!

Jakarta, 12.01.2011

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Leave a Reply

%d bloggers like this: