Dilema Ibu Pekerja

Lets Share:

Apa yang dirasakan seorang ibu yang harus bekerja keluar rumah, ketika ia harus meninggalkan anaknya? Terutama jika anaknya balita dengan usia 7 bulan? Apakah di dalam hatinya ada kecemasan, kerinduan, atau malah perasaan bersalah? Bagaimana seorang ibu yang berkarir mampu membagi waktunya, antara kewajibannya di rumah dengan kewajiban tugas yang ia pikul dalam pekerjaannya? Bagaimana ia menjaga keseimbangan dirinya, agar tetap mampu fit dalam dua kondisi tersebut?

Dengan sedikit pertanyaan itulah saya mencoba manganalisa sebuah potret ibu pekerja. Seorang teman, 30 tahun, apoteker, yang saat ini bertugas sebagai asisten pendamping apoteker di sebuah apotik perusaahaan obat terkemuka di Indonesia, Kimia Farma. Seorang ibu, dengan 1 anak orang anak balita, yang memiliki jam kerja 8 sampai 10 jam sehari. Dia hanya memiliki 1 hari libur, yang berarti total kerjanya adalah 48—60 jam seminggu.

Di suatu sore, saya berkunjung ke rumahnya. Sebagaimana umumnya pasangan muda, mereka mengontrak sebuah rumah sederhana; 1 ruang tamu, 1 ruang tengah, 2 kamar tidur, 1 kamar mandi, 1 ruangan kecil yang berfungsi sebagai dapur, dan 1 loteng yang digunakan sebagai tempat menjemur pakaian,. Sebenarnya ruang tamu dan tengah menyatu, tetapi ruangan itu dipisahkan oleh sebuah lemari buku. Di atas lemari itu ada TV dan berbagai macam buku, diatasnya seringkali ditaruh jam dan beberapa peralatan pribadi. Sedangkan di ruang tamu itu ada sebuah kursi panjang berwarna hijau dengan kain gorden senada. Di ujung kursi itu, ada sebuah rak panjang tempat pajangan, dimana dia menaruh berbagai macam pajangan kecil, termasuk berbagai macam souvenir pernikahan. Adapun ruang tengahnya berisi lemari makanan dan sebuah meja tempat komputer diletakkan diatasnya.Dengan nuansa cat putih dan lantai berubin putih, rumah itu terkesan sederhana sekaligus teduh.

Sekitar jam 5 sore, dia pulang. Itu jika ia masuk pagi, dimana ia berangkat dari jam 8 dan pulang jam 5, atau jika perkerjaan belum selesai, ia pulang jam 6. Jika masuk siang, ia berangkat jam 2.30 dan pulang jam 9.30.

Selepas pulang, ia langsung mandi. Ia tidak mau menyentuh bayinya sebelum ia membersihkan diri dari debu jalanan. Selepas mandi, ia baru menghampiri anaknya, bermain-main dengannya dan menyusuinya. Tidak sedikitpun ada gurat-gurat kelelahan ketika ia menatap dan bercanda dengan anaknya. Seakan ia ingin memberikan wajah yang ceria sebagai penebus ketidakhadirannya. Anakku adalah hiburanku, katanya. Jika bukan karena ibuku yang menjaga dia, aku juga tidak akan tenang meninggalkan dia di rumah. Jika harus seorang pembantu yang menjaga dia, aku tidak mau. Pikiranku tidak akan tenang meninggalkan dia di rumah.

Dia terus bermain dengan anaknya. Seakan tiada lelah.. Dia langsung mengambil alih tanggung jawab mengurus anaknya dari tangan ibunya, karena ia mengerti, ibunya pun telah lelah menjaga bayinya. Meski tentu saja, atas nama cinta, seorang nenek akan melakukan apapun demi cucunya. Mau bagaimana lagi, katanya. Saya harus bekerja demi ilmu yang sudah saya tuntut. Jika tidak, alangkah sayangnya ilmuku. Ada faktor pengabdian yang harus kutunaikan. Tapi ya, aku sering merasa bersalah karena meninggalkan dia di waktu lama. Karena itu, aku berusaha mengoptilmalkan waktuku ketika bersama dia. Dan itulah yang terlihat di wajah dan perilakunya: rasa kesabaran, rasa syukur dan kelembutannya dalam menghadapi anaknya.

July, 5 2006
Published on Workshop Sastra Journalism
M Kom UI

Angelika Rosma
Latest posts by Angelika Rosma (see all)

Lets Share:

Leave a Reply

%d bloggers like this: